Menapaki Jalan Langit

  • Asdar Azis

    Adda merupakan nama panggilan di rumah dan orang-orang terdekat.Lahir dan dibesarkan di Sulawesi Selatan,Kuliah di Kota Makassar dan Bandung,Bekerja berpindah-pindah,saat ini tinggal di Kota Palembang,senang begadang dan minum kopi susu,senang tertawa,dan memiliki cita-cita yang tinggi

Mereka yang terlebih dulu melangkah ke pintu itu (1)

Kehidupan ini adalah sebuah nikmat yang wajib untuk di syukuri.Setiap masa dalam hidup pada saatnya akan berakhir dan ini adalah sebuah keniscayaan.Dalam minggu terakhir ini,dua orang yang secara emosional dekat dengan sa lebih dahulu menapaki akhir jalan hidup di dunia ini.Adalah sosok kolega sa :Muhammad Majid dan keponakan sa Andi Asmara Dina.

Andi Asmara Dina adalah anak perempuan dari sepupu sa.Seorang wanita yang cantik umurnya masih 25 tahun.Masih muda.Namun kini dia pergi menyusul anak perempuannya yang terlebih dulu meninggal setahun yang lalu.Sa mencoba mengingat masa kecil yang sempat kami lalui bersama.Tidak banyak memang karena waktu itu kami tinggal di daerah yang berbeda.sa di Sidrap dan dia tinggal di Soppeng.Namun walaupun kebersamaan kami kami sebatas hanya dalam acara keluarga saja namun sa mengingat Andi Ninna begitu nama panggilannya adalah seorang anak yang periang.

Bermula dari rencana dari nenek dari Andi Ninna ( nenek Andi Ninna dan Nyokap adalah saudara sebapak namun lain ibu) untuk menjodohkan kami berdua akhirnya komunikasi kami berdua menjadi kikuk.Sa pribadi yang kala itu baru lulus SMA belum sama sekali berfikir ke arah sana.sa yakin dia pun berfikir seperti itu.Keadaan bertambah rumit karena tidak lama kemudian Nenek Andi Ninna meninggal dunia dan perjodohan ini dianggap menjadi wasiat.

Tahun  demi tahun berlalu akhirnya rencana perjodohan itu hilang dengan sendirinya.apalagi dengan sikap dengan Nyokap yang tidak terlalu mempermasalahkan hal ini dan menyerahkan keputusan kepada sa pribadi.

Sa kemudian kuliah di Bandung dan bekerja di Jakarta dan jarang sekali pulang.Ketika sa pindah ke Palembang,akhirnya Andi Ninna menikah dengan pilihan hatinya dan setahun kemudian lahirlah anak perempuan mereka namun sayang umurnya tidak panjang.Semenjak kepergian putrinya lambat laun kondisi kesehatannya menurun .Terakhir sa bertemu dengan dia pada suasana lebaran tahun 2009 tubuhnya nampak sedikit kurus namun tetap ceria sebagaimana sa mengenalnya di masa kecil.

Adik sa bercerita bahwa di hari-hari terakhir hidupnya dia masih sempat bertemu dan mengobrol di sebuah Mall di Makassar.di sore yang cerah ketika dia sedang duduk di teras rumahnya akhirnya ajal datang menjemput nyawa.Selamat jalan Ninna semoga engkau mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya.Ditengah malam yang sunyi ku panjatkan doa dan ku kirimkan Fatihah semoga menjadi penerang jalanmu di sana.

2 Responses to “Mereka yang terlebih dulu melangkah ke pintu itu (1)”

  1. Bahsin Says:

    life goes by, that’s a circle of life…dunia ini akan silent aja
    dar kalo tanpa cerita kehidupan. kita harus mengambil hikmah di balik
    perjalanan hidup …karena kita juga nanti bakal sampai di saat itu …
    sudah kah kita siap bekal, baik bekal buat diri sendiri, dan bekal untuk anak
    anak istrimu dar? karena mereka adalah aset dalam hidup dunia dan akherat mu dar.

  2. subair Says:

    Innalillahi wa inna ilaihi rojiun..

Leave a Reply