Kisah : suka duka mendapatkan cicilan rumah

Sebagai pasangan baru,kami juga punya mimpi untuk memiliki rumah sendiri.Sebelum menikah saya berupaya sekuat tenaga untuk memotivasi diri mewujudkannya.Apa daya  “budget kenakalan” tiap bulannya selalu jauh lebih besar apalagi saya tinggal jauh dari orang tua dan keluarga sehingga kontrol externalnya memang sama sekali tidak ada.Salah satu sisi kehidupan di project yang tidak bisa saya kelola dengan baik.

Setelah beberapa lama akhirnya kesadaran itu datang juga. saya kemudian “menjebak” seorang teman yang memiliki keadaan yang sama. Mulailah kami berpindah dari tinggal di “hotel kecil” menjadi mengontrak rumah untuk merasakan benar benar sensasi tinggal dirumah ( di luar rumah orang tua…).Sensasi kehidupan “datang tidur dan pergi” menjadi permanent residence.

Cara ini terbukti efektif.Pertama,dalam hal pola fikir.Tinggal di dalam lingkungan kompleks perumahan menjadi berbeda dengan ngekos.motivasi untuk segera berkeluargapun berangsur muncul. hasilnya dalam kurun waktu 6 bulan kami berdua benar benar siap untuk memulai hidup baru kami masing-masing.Teman saya kemudian keluar dari rumah karena beruntung mendapatkan hadiah rumah dari mertuanya.

Setelah berkeluarga dan masa kontrak rumah akan berakhir di mulai lah perburuan mencari rumah.Rumah yang sederhana yang sesuai dengan kemampuan finansial kami.Usaha pun dilakukan dengan mendatangi pameran perumahan,mengamati setiap iklan rumah di koran sampai mendatangi lokasi lokasi perumahan yang kemungkinan harganya masih terjangkau.

Tabungan yang kami miliki tidaklah banyak sehingga kemungkinan untuk membeli rumah dengan hard cash sangatlah kecil.Solusi yang terfikir saat itu adalah meminjam uang di bank dengan jaminan rumah yang akan kami beli tersebut.Lazimnya di sebut kredit pemilikan rumah atau KPR.

Pilihan pertama jatuh pada sebuah rumah yang tak jauh dari rumah yang kami kontrak.Harga,lokasi dan kondisi rumah menurut kami sudah cukup worth it lah.Salah satu syarat untuk mengajukan kredit untuk rumah “existing” adalah adanya dokumen IMB,sertifikat hak milik,KTP pemilik rumah,Akte Jual beli,surat penawaran dan bukti pembayaran PBB tahun terakhir.Biasanya si pemilik rumah tidak akan menyerahkan begitu saja dokumen tersebut sebelum adanya deal tentang harga rumah dan pembayaran Booking fee atau “tanda jadi”. Selain itu pemilik rumah akan meminta batas waktu pembayaran sehingga bila pembelian tidak berhasil maka offering ke calon pembeli lain dapat dilakukan.Resikonya adalah ketika permintaan kredit di tolak oleh bank maka kemungkinan besar booking fee yang telah di berikan ke pemilik rumah  tidak akan di kembalikan.

Berbekal seluruh dokumen yang di butuhkan maka saya pun melakukan wawancara permintaan kredit di bank.Setelah wawancara di lakukan maka bank akan melakukan survey terhadap rumah yang akan menjadit object kredit tersebut untuk menentukan nilai jual rumah .Ketentuannya adalah bank hanya akan memberikan nilai maksimal 80 % dari nilai jual rumah.

Rintangannya pun mulai terlihat. Pertama, Ternyata sertifikat rumah tersebut statusnya masih Hak Guna Bangunan (HGB). Untuk kredit,bank mensyaratkan agar sertifikat rumah sudah merupakan Sertifikat Hak Milik (SHM). saya baru mengerti kenapa di banyak iklan rumah menyebutkan bahwa status kepemilikan rumah sudah SHM. Untuk meningkatkan status kepemilikan dari HGB menjadi SHM ternyata bergantung pada NJOP.Dalam kasus saya,nilai yang harus di bayarkan menurut saya cukup besar.Di sinilah mulai terlihat bahwa harga rumah yang akan saya beli ternyata lebih besar.Rintangan kedua mengenai status saya sebagai karyawan kontrak.Walaupun secara finansial saya mampu membayar cicilan bulanan dari rumah tersebut tapi status saya sebagai karyawan kontrak tetap saja menjadi halangan.

Setelah menemui jalan buntu akhirnya dengan berat hati,saya pun memberi tahu kepada pemilik bahwa rencana pembelian rumah tidak dapat di kabulkan oleh bank dan uang tanda jadi yang saya serahkan pun menjadi hangus.

Berbekal pengalaman pahit tersebut akhirnya saya pun mencoret pencarian rumah existing dari daftar saya.Pencarian kemudian saya lebih fokuskan  ke kompleks perumahan.target ini agak lebih mudah untuk di dapatkan. maraknya iklan perumahan di berbagai media dan gencarnya pameran perumahan menjadi penyebabnya.

Akhirnya rumah tersebut berhasil kami dapatkan.Setelah melihat kondisi rumah kami pun setuju untuk melakukan pembelian.Melakukan pembelian melalui developer secara administratif lebih simple dari pada melakukan pembelian rumah existing.Cukup membayar booking fee ke developer dan kami pun sudah bisa mendapatkan wawancara pengajuan kredit kepada bank yang telah menjalin kerjasama dengan developer tersebut.saya tahu status sebagai karyawan kontrak akan menjadi masalah untuk mendapatkan kredit tersebut. Beruntung sebelum aplikasi saya di submit akhirnya saya mendapatkan sebuah “jaminan tertulis” yang menyatakan saya secara finansial mampu membayar cicilan bulanan selama masa kredit rumah tersebut.

Wawancara tersebut akhirnya dilakukan dan setelah di bank melakukan berbagai cross check dokumen yang ada pada aplikasi saya, dua minggu kemudian aplikasi saya pun di setujui. Setelah melakukan beberapa proses administrasi pada bank,developer dan notaris maka akhirnya di akhir tahun 2009 kami dapat menempati rumah pertama kami.

Rumah pertama yang penuh penuh perjuangan mendapatkan cicilan kreditnya

Rumah pertama yang penuh penuh perjuangan mendapatkan cicilan kreditnya

Mendapatkan cicilan rumah bagi saya menmpuh proses yang cukup panjang dan saya senantiasa berdoa agar saya tetap mampu menbayar cicilan rumah ini sampai lunas . Amin

4 Comments - Add Comment

Reply