Mengenang Tradisi, Mengenang cara lama.

Ketika waktu telah berjalan, kita mungkin akan bertanya apakah cara lama masih bisa dipakai untuk menjawab tantangan zaman. Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua.

Belajarmengaji

Sepeda BMX hitam ini mengingatkan masa kecil di kampung. Sepeda itulah yang biasa dipakai pergi bersekolah dan mengaji. Zainur,teman mengaji saya. Dia punya juga sepeda BMX berwarna merah.Hampir tiap hari kami balapan.Rutenya kadang di kebun. Kadang pula di jalan beraspal. Sekali dua kali kadang kami cekcok juga karena hal yang sepele. Tak lama baikan kembali. Sayang ketika kami kelas lima SD, dia menderita sakit cukup lama. Sampai akhirnya meninggal. Tuhan jauh lebih tahu apa yang terbaik untuknya.

Sepulang sekolah dan makan siang adalah waktu untuk mengaji.Di rumah panggung ini kami belajar mengaji. Rumah panggung yang tidak terlalu besar dengan tiang kayu bersegi enam.Di bagian belakang terdapat sebuah ruangan yang cukup lapang. Di tempat ini kami biasa mengaji. Ada tiga buah tungku tanah untuk memasak, lemari dan peralatan dapur disana. Ruang ini juga berfungsi sebagai ruang makan. Kadang-kadang pula kami mengaji di sebuah ranjang kayu besar yang terletak di kolong rumah. Kami di kampung biasanya menyebutnya la’da-la’da.

Ikhwal mengaji di kampung ini ada adat pembukanya juga. Semacam ritual pendaftaran kalo jaman sekarang.Orang tua/kerabat si anak yang akan belajar datang ke rumah guru mengaji dengan membawa kelapa muda, gula merah dan jarum. Barang-barang ini diletakkan dalam sebuah baki. Setiap benda ini memiliki makna. Kelapa muda simbol dari kebersihan hati sebelum mulai belajar mengaji. Gula merah merupakan simbol dari ” cenning ati ” atau hati yang senang akan belajar membaca Al-Quran. Sedang jarum  melambangkan ketajaman fikiran agar si anak  dapat cepat mengerti dan fasih membaca al-quran. Setelah semuanya siap si anak akan dipersilahkan mencicipi kelapa dan gula merahnya dilanjutkan dengan minum air yang sudah di rendam dengan jarum.

Metode mengaji tradisional dibagi dua level. level pertama adalah pengenalan huruf dan tanda baca. Biasanya kami menyebutnya Quran beccu ( Quran kecil). Qur’an kecil ini seingat saya ada 28 halaman.Bagian pertama adalah pengenalan huruf dan tanda baca dan bagian kedua terdiri dari surah-surah pendek. Metode belajar mengajinya di lakukan dengan bersenandung dengan menggunakan bahasa bugis. Saya masih ingat caranya :

Alipu dua senna Aan اً Alipu dua yawanna Een اٍ Alipu duappanna Oon اُ !! Aan Een Oon اً اٍ اٌArtinya (Alif ada dua garis diatas ( اً ), Alif ada dua garis dibawah ( اٍ )  , Alif dua harakat diatas ( اٌ ) Aan Een Oon  اً اٍ اٌ

Setelah menamatkan Qur’an kecil barulah kami melanjutkan membaca Muzhaf Qur’an. Kami biasanya menyebutnya Qur’an Loppo ( Qur’an besar ).Biasanya dari belajar sampai menamatkan Qur’an besar  sebanyak 30 juz butuh waktu sekitar 7 sampai 8 bulan. Namun saya butuh waktu lebih lama dari itu.
Salah satu kewajiban setelah selesai belajar mengaji adalah membantu membawa/memikul air dari sumur sampai ke rumah.Di rumah-rumah panggung biasanya ada tempayan air yang di letakkan di atas rumah untuk keperluan memasak dan membersihkan diri. Kamilah yang bertugas untuk mengisinya. Dibawah rumah juga terdapat wadah air yang berfungsi sebagai tempat untuk mandi ataupun membersihkan kaki sebelum naik ke rumah. Disana kami biasanya berwudhu sebelum mengaji dan mengisinya kembali setelah selesai.
Saat ini metode belajar mengaji sudah beragam. Contohnya dengan menggunakan metode Iqra.Namun saya percaya metode tradisional seperti ini masih punya tempat. Kakek kami di usianya yang sudah senja masih mengabdikan diri untuk mengajar anak-anak mengaji. Masih setia menggunakan metode ini. Waktu memang terus berjalan namun cara-cara lama terkadang masih menemukan tempatnya. Sekarang kembali pada anda mau menggunakan metode yang mana.
Postingan ini disertakan dalam #8MingguNgeblog Anging Mammiri

11 Comments - Add Comment

Reply