Reality show: ketika si penipu masuk TV

Nama saya Luthfi Fhalevi Siahaan,Ayah saya Wilianson Siahaan dulu adalah seorang pengacara dan sekarang sudah 15 tahun sebagai Kepala Keuangan di Medan dan Ibu Saya Merry Christina Manulang adalah dokter kepala bagian internist.” demikian Lufthi memperkenalkan diri kepada Housemate (sebutan untuk penghuni dalam acara Big Brother Indonesia).

Big Brother

Siapa yang menyangka sosok Luthfi yang dikenal manja,sensitif,provokatif dan suka meledak-ledak ini ternyata belakangan di ketahui adalah orang yang di cari-cari karena terlibat berbagai kasus.Karaktek Luthfi sebagai anak keluarga kaya dan suka menyombongkan diri di hadapan Housemate lain selalu berhasil membuat pemirsa acara reality Show Big Brother Indonesia menjadi gemes.

Bermula ketika Team Big Brother melakukan verifikasi data-data yang di berikan Luthfi.Team Big Brother yang mendatangi kantor BPKP yang di akui Luthfi sebagai kantor ayahnya menemukan bahwa nama Wilianson Siahaan tidak terdapat di dalam data base pegawai baik yang masih aktif maupun sudah pensiun.Hal yang sama terjadi ketika Team Big Brother mendatangi Rumah Sakit Adam Malik Medan yang diakui Luthfi sebagai tempat bekerja Ibunya.Ternyata nama Merry Christina Manulang pun tidak ada.

Penelurusan berlanjut ke alamat yang ada dalam KTP yang di berikan Luthfie.Hasilnya,Tidak ada salah seorang warga pun mengenalnya.Begitupun ketika di telusuri ke SMA Negeri I Medan nama Luthfi Fhalevi Siahaan pun tidak ada dalam database sekolah.Fakta yang mengejutkan kemudian terungkap bahwa Luthfie sebenarnya bernama Boris Erwin Putra Simbolon.Ayahnya bernama Manungkar Simbolon adalah seorang Tukang Ojek dan Anggota Koperasi dan Ibunya Meri Br Napitupulu adalah seorang Ibu rumah tangga yang memiliki warung kecil-kecilan di rumahnya.Luthfie sendiri pergi dari rumah sejak SMP karena mengambil uang temannnya sebesar 32rb rupiah dan tak pernah kembali.

Big Brother Indonesia kemudian menghadirkan sang ayah untuk berbicara dengan Luthfi.Namun kehadiran sang ayah tidak mendapatkan sambutan yang baik dari Luthfi.Sebuah hal yang berbeda dimana saat itu housemate yang lain merindukan keluarga mereka.hal ini tentu saja membuat pemirsa di buat bertambah gemes dan penasaran terhadap sosok Luthfie.

Profesi Luthfi sebagai dokter pun menjadi di pertanyakan karena setelah di lakukan pengecekan di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga yang diakuinya sebagai almamaternya ternyata namanya tidak ada dalam database alumni. Begitupun  tanda pengenal dokter muda pada Rumah Sakit Adam Malik Medan ternyata menunjukkan tanda pengenal tersebut palsu.Dalam tayangan malam deportasi Tanggal 18 Juni 2011 akhirnya terungkap bahwa Luthfie telah menipu beberapa orang dan membawa lari uang jutaan rupiah,telepon dan kendaraan bermotor.Luthfi menipu dengan mengaku sebagai dokter ataupun keluarga dekat,mengambil simpati korban danselanjutnya mengambil harta korban dengan beberapa alasan yang di buat-buat dan kabur. Big Brother pun menayangkan testimoni dan wawancara orang-orang yang pernah menjadi korbannya.Di akhir acara Luthfie di diskualifikasi dari rumah Big Brother dan di serahkan kepada pihak yang berwajib ( sempat diperlihatkan screenshot surat perintah penangkapan dari polisi).

Exploitasi Aib ?

Pertanyaan kemudian muncul apakah pantas dan layak Pihak Trans TV sebagai pemegang Lisensi Big Brother Indonesia menayangkan bahkan lebih terlihat mengexploitasi aib dari Luthfie untuk mendongkrak rating acara ini.Kalo kita membandingkan dari beberapa tayangan kriminal,wajah tersangka biasanya di tutupi / disamarkan.Di acara big brother malah kasus Luthfie kemudian di tayangkan hampir setiap hari bahkan mengulang-ulang tayangan tersebut tanpa di ketahui oleh yang bersangkutan mengingat di dalam rumah Big Brother Para Housemate tidak memiliki akses ke dunia luar.

Hal ini menjadi topik perbincangan yang hangat di berbagai Forum Diskusi di Internet.Sebahagian menyudutkan Trans TV yang begitu mengexploitasi kasus ini bahkan  terkesan “memelihara ” kasus ini beberapa lama dengan meniadakannya deportasi minggu sebelumnya.sebahagian lagi menyatakan bahwa Luthfi memang  layak menerima hal tersebut karena telah melakukan pembohongan publik sehingga wajar kemudian jika kasus ini mendapat perhatian dan selalu di tunggu perkembangannya oleh Pemirsa.Saya sendiri sedikit mepertanyakan “kebodohan” dari Luthfie untuk mengikuti sebuah acara reality show yang di tayangkan ke seluruh Indonesia dimana dirinya dalam posisi sedang di cari cari orang.Tergiur hadiah uang Milayaran rupiah mungkin ? entahlah.

Seperti yang di kutip dari harian Warta Kota,Trans TV yang di wakili oleh Hadiansyah Lubis selaku Head of marketing and Public Relation menolak anggapan atas adanya rekayasa kasus Luthfie yang kemudian menarik perhatian pemirsa.Trans TV belum mengetahui sepak terjang dan pemalsuan identitas pada saat awal acara ini bergulir.Hal ini baru di ketahui setelah acara ini telah ditayangkan beberapa lama dan kemudian datang pengaduan dari masyarakat yang merasa pernah di rugikan oleh salah seorang housemate yang mengaku berprofesi sebagai dokter ini.

Apapun itu saya berharap Big Brother Indonesia adalah sebuah reality show seperti yang di usung oleh taglinenya “Reality show yang sesungguhnya “. Sebuah reality show tanpa script,rekayasa atau sejenisnya sehingga kita dapat melihat dan belajar mengenai karakter dan sifat seseorang.Bukankah dengan Out of Box kita dapat melihat segala sesuatu dengan pandangan yang berbeda dan mungkin lebih jernih.

4 Comments - Add Comment

Reply