Yang Bergetar di Aliran Sungai Jeneberang

Tiba-tiba ingatan saya melayang ke sebuah foto yang mungkin saja hoax. Foto buaya yang katanya berada di muara sungai ini. Padahal sedari menurunkan perahu karet tidak pernah sedikitpun terlintas bayangan itu. Tapi bukankah di anakan sungai yang lain orang pernah melihat buaya?. Bukankah dalam ekositem kita mengenal Crocodylus porosus atau Buaya Muara. Jenis buaya yang memiliki bobot yang jauh lebih besar dari jenis buaya lain. Yang habitat hidupnya di tempat seperti ini.

Bayangan ketakutan mulai merasuk. Saya mengayuh dayung pelan dan perlahan. Kiri kanan dengan bergantian. Penuh kewaspadaan. Perahu karet dua penumpang ini pun berjalan pelan di sungai dengan lebar sekitar empat ratus meter. Kami hanya tinggal beberapa meter lagi keluar dari muara sungai. Dua tiga kayuhan kemudian membuat kami mencapai Selat Makassar.

***

Buaya disalah satu anak Sungai Jeneberang (Source: Fajar online)

Buaya disalah satu anak Sungai Jeneberang (Source: Fajar online)

Matahari baru saja terbit. Sinar kuning keemasan memantul di aliran sungai yang tenang. Di seberang sana, sekelompok lelaki bertubuh kekar mendorong perahu turun ke sungai. Sejenak percikan air meninggi dan perahu besar itu pun terjun ke sungai. Beberapa orang nelayan yang baru pulang melaut menyandarkan perahunya. Sementara para penikmat mancing mulai mencari posisi yang strategis untuk mendapatkan ikan.

Jeneberang. Sungai yang melewati Gowa dan Makassar sejauh 80 km. Berasal dua suku kata dalam bahasa Makassar. Jene’ berarti “air” dan berang yang berasal dari kata “parang”. Disebut demikian karena air sungai yang memiliki debit air yang besar ini seringkali menerabas apa saja yang ada di hadapannya seperti parang. Sungai ini berhulu di pegunungan Lompo Battang kemudian mengalir kearah Barat sebelum akhirnya bermuara di Selat Makassar.

Jeneberang adalah saksi perjalanan sejarah. Di delta Sungai Jeneberang terletak sebuah benteng yang merupakan peninggalan kerajaan Gowa-Tallo. Benteng yang bernama Somba Opu. Benteng yang hancur dalam pertempuran sengit antara pasukan Belanda dengan pasukan Sultan Hasanuddin ditahun 1669. Benteng yang kejatuhannya sekaligus merupakan kejatuhan kerajaan Gowa.

Jeneberang adalah salah satu nadi Gowa dan Makassar. Dari Gunung Lompobattang, airnya dibendung di Bili-Bili. Kemudian dibendung lagi di Bissua dan lanjut di Kampili. Mengairi ribuan hektar sawah, sumber air minum,listrik dan rumah bagi banyak ikan air tawar.

Saya memeriksa sekali lagi perahu karet. Memastikan tidak ada yang bocor. Perahu karet ini milik teman saya bernama Abo. Teman yang mengajak saya menjelajah sungai. Dia sudah pernah berperahu karet di muara Jeneberang yang lain. Di tempat orang-orang pernah melihat penampakan buaya. Kadang-kadang saya berfikir urat takutnya sudah putus. Dia pula yang menjadi buddy ketika saya ketika pertama kali menyeberang ke Pulau Gusung.

Baca juga : Jerigen bocor dan sensasi berenang Popsa – Gusung

Perahu karet yang kami gunakan ukurannya tidak terlalu besar. Namun cukup untuk menampung dua orang. Bila anginnya dikeluarkan, perahu itu bisa digulung dan dilipat. Kurang lebih besarnya hanya seukuran tas ransel 30 Liter. Melengkapi petualangan hari itu, kami bersepeda dulu. Mungkin lebih tepatnya bersepeda dari rumah masing-masing dan bertemu di tepian Sungai Jeneberang. Bersepeda beberapa kilometer sebagai pemanasan sebelum mendayung perahu.

Bersiap mengayuh perahu

Bersiap mengayuh perahu

Kami kemudian mengikatkan sepeda di perahu. Sepeda saya di depan dan Sepeda Abo di belakang. Setelah cukup yakin dengan ikatan kami, perahu itu pun didorong ke air. Beberapa orang yang lewat nampak penasaran. Mereka singgah dan memperhatikan kami. Saya naik di posisi depan, Abo yang naik terakhir karena duduk di belakang. Setelah perahu dirasakan seimbang dengan posisi kami masing-masing, kami pun mulai mendayung. Saya di kanan dan Abo di kiri. Karena baru kali ini saya baru belajar mendayung dan belum terlalu paham tekhniknya, perahu malah berputar-putar. Abo kemudian mengajari saya teknik mendayung maju.

Teknik ini dimulai dengan mendorong daun dayung ke muka dengan tangan sebelah luar. kemudian tahan sebentar posisi ini dengan kuat dorong pegangan dayung ke muka untuk menekan daun dayung dalam-dalam ke air. Dilanjutkan mendayung dengan mendorong pegangan sekaligus menarik gagang dayung, dengan mempertahankan daun dayung pada sudut yang benar sehingga dayung berada di bawah pantat. Keluarkan daun dayung kemudian putar daun dayung sejajar permukaan air. Ulangi lagi. Ini sering disebut dengan dayung kuat. Selain itu juga saya belajar teknik bagaimana car mengendalikan perahu.

Monumen Layar tampak dari kejauhan

Monumen Layar tampak dari kejauhan

Saya tersenyum lebar. Teringat dulu pernah mendayung perahu bersama teman. Dua orang dewasa mendayung dengan kuat namun bisa dilewati dengan mudah oleh anak kecil yang mendayung dengan pelan. Orang-orang yang menonton di tepi sungai meneriaki kami, mereka melambaikan tangan dan kemudian pergi. Perahu meluncur dengan tenang melewati bawah Jembatan Barombong. Abo kemudian menyambung kedua bilah dayung dan menyerahkannya ke saya. Rupanya karena baru belajar mendayung, saya membuat kucuran air dari dayung masuk ke dalam perahu. Akhirnya kami berbagi tugas. Saya mendayung dan Abo menguras air keluar dari perahu.

Di ujung muara Sungai Jeneberang

Di ujung muara Sungai Jeneberang

Perahu berbelok ke kanan dan kami menyusuri kawasan Tanjung Merdeka. Beberapa orang yang sedang bermain di pantai melambai-lambaikan tangan kepada kami. Setelah hampir dua jam berputar-putar di muara, perahu kami sandarkan di dermaga, dilipat dan kami pun pulang dengan hati yang riang.

Menepi disekitaran Tanjung

Menepi disekitaran Tanjung

Selalu ada hal pertama dalam memulai sesuatu. Hari itu saya belajar lagi hal yang baru. Pertama, bagaimana belajar mendayung. Kedua dan yang sangat penting adalah belajar mengendalikan diri, belajar mengatasi rasa takut dan belajar menguatkan hati. Rasa takut memang adalah hal alami yang dimiliki manusia. Rasa takut adalah bentuk mekanisme diri terhadap bentuk bahaya. Namun jika kita mau belajar dan tidak panik maka akan ada pengalaman-pengalaman baru yang menarik yang telah menanti.

29 Comments - Add Comment

Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.