4 hal yang harus segera dilakukan ketika mengalami kecelakaan saat bertualang

Saya baru saja menyelesaikan dua putaran di sisi bukit ketika suara teriakan itu sayup terdengar. Arghhh… lalu kembali sunyi. Hati saya merasa ada sesuatu yang tidak beres. Lalu fikiran saya mendadak gusar mengingat Om Arie – kawan yang bersama saya bersepeda hari itu. Saya mengerem sepeda dengan keras hingga ban belakangnya melintir. Sepeda itu saya buang saja di pinggir jalan lalu saya berlari sekuat tenaga menaiki bukit. Di ujung jurang saya melihat sepeda tergeletak. Hati saya bertambah tidak enak. Ketika saya menengok kedalam jurang, saya melihat tubuh sahabat saya terlentang diatas batu. Diam. Tanpa gerakan.

Subuh itu hujan turun dengan derasnya. Hari sabtu dan saatnya bersepeda dengan kawan-kawan dengan rute yang sedikit jauh. Hujan yang turun membuat beberapa kawan batal ikut. Saya memutuskan menunggu hingga hujan reda. Penantian saya tidak sia-sia, Pukul 06.30 hujan pun berhenti.

Hari itu yang jadi bersepeda hanya dua orang, saya dan Om Arie. Tujuan kami menuju ke arah Bili-Bili melewati Patalassang. Kami berniat menjajal kembali tanjakan cinta dan menikmati padang savanna.

Om Arie agak melambat karena staminanya sedang turun. Ternyata semalam kurang tidur. Kami beberapa kali berhenti istirahat sebelum mencapai tanjakan cinta. Kalau pernah membaca postingan saya di atas, di sana saya pernah menjelaskan kenapa namanya tanjakan cinta.

Sedari Tanjakan Cinta memang kondisinya tidak begitu fit
Sedari Tanjakan Cinta memang kondisinya tidak begitu fit

Di tanjakan cinta staminanya nyaris habis sehingga kami beristirahat cukup lama setelah mencapai puncak bukit. Tanjakan cinta punya dua sisi jalan yang berbeda. Di satu sisinya jalan lurus dan lebar dan tanjakannya lumayan tinggi. Di sisi yang satunya jalannya berkelok agak sempit dan tentu saja curam. Biasanya rombongan sepeda yang melewati jalur ini akan naik dari jalur berbelok dan turun  di jalur yang lurus. Namun hari itu kami melewati jalur dari arah sebaliknya.

Karena baru pertama kali melewati jalur turun berbelok, saya menyarankannya untuk menuntun sepeda saja. Namun beliau enggan. Setelah menjelaskan kondisi teknis turunan, kami pun bergerak. Om Arie berada di posisi depan. Setelah melewati tikungan tajam pertama, saya melihat tidak ada masalah. Saya pun melaju kedepan. Lalu terjadilah peristiwa yang saya ceritan diawal tadi.

Melihat tubuh Om Arie di dasar jurang membuat saya agak panik.Saya menarik napas panjang sambil mengingat latihan pertolongan pertama pada kecelakaan yang pernah saya ikuti.

Memang tidak ada seorang pun yang menginginkan adanya kecelakaan tapi ketika hal tersebut terjadi maka kita harus siap menghadapinya.

-ADDA-
4 hal yang harus segera dilakukan ketika mengalami kecelakaan saat bertualang 2
Posisi jatuh Om Arie ketika mengalami kecelakaan

Setelah cukup tenang, saya kemudian menuruni jurang yang dalamnya sekitar delapan meter dengan berpegangan pada sela-sela batu.Saya memanggilnya dan terdengar jawaban walaupun hanya erangan kecil. Hal pertama yang yang saya periksa adalah tempat dimana tubuhnya terbaring. Apakah cukup kokoh ataukah labil. Jika tempatnya labil saya harus memindahkan tubuhnya ke tempat yang jauh lebih aman. Kondisi tempat labil juga berbahaya buat saya. Alih-alih menolong mungkin saya bisa jadi korban selanjutnya. Pelajaran pertama dalam menolong korban kecelakaan : Perhatikan lingkungan sekitar untuk mencegah kecelakaan lanjutan.

Tempatnya ternyata cukup kokoh dan stabil. Tidak ada batu yang menjepit yang bisa membuat keadaannya bertambah parah. Saya memeriksa kondisi fisiknya karena penanganan yang dilakukan harus sesuai agar luka yang dialami tidak bertambah parah, tangan dan kakinya nampak normal. Tidak ada tanda-tanda patah, walaupun penuh luka. Dari posisi tertelungkup saya mencoba membalik badannya menjadi terlentang. Beruntung dia menggunakan helm. Kepalanya tampak baik-baik saja walaupun helm itu penuh goresan. Saya bertanya kepadanya apakah bisa menggerakkan kaki dan tangannya. Dia hanya mengangguk pelan.

Dibawah sini saya menemukannya, saya shock melihatnya namun berusaha tidak panik
Dibawah sini saya menemukannya, saya shock melihatnya namun berusaha tidak panik

Saya pun mulai mencari cara untuk menaikkan tubuhnya keatas.  Beberapa utas akar yang kering saya ikatkan tubuhnya danpunggung saya. Setelah dirasa cukup kuat, saya kemudian menggendongnya, sambil memberitahukannya agar memegang dengan erat tubuh saya karena kamiakan memanjat.

Saya percaya di saat-saat tertentu tubuh bisa bereaksi untuk meningkatkan kekuatannya lebih dari biasanya. Om Arie dengan saya beratnya tidak berselisih terlalu jauh. Namun pada saat itu saya merasa tidak terlalu berat menggendongnya. Begitupun ketika memanjati dinding batu dengan tubuh Om Arie di punggung saya, rasanya tangan dan kaki saya cukup kuat untuk menahan beban dua orang. Sedikit demi sedikit kami pun sampai diatas. Om Arie akhirnya tiba ke tempat yang jauh lebih aman.

Begitu sampai diatas ada 3 orang menyambut saya. Rupanya sejak saya turun mereka memperhatikan saya.

“Saya lihat ki tadi turun pak, Cuma agak takutka tadi“

“Ndak papaji pak”.

Dia menelpon seorang kerabatnya yang rencananya membawa motor. Saya akan membawanya ke Rumah Sakit terdekat namun dalam perkiraan jarak rumah sakit terdekat sejauh 25 km. Belum lagi kondisinya tidak mungkin dibawa menggunakan motor. Saya menelpon Kang Dani berharap semoga dia belum berangkat ke Pangkep. Syukurlah dia segera mengangkat telepon dan bersedia menjemput kami.

“Pak, daripada disini lebih baik kita bawa teman ta ke rumahnya  Kepala Desa di bawah. Biar dia bisa lebih di rawat dan lebih lapang. Saya menyanggupinya dan dengan menggunakan sepeda motor kami membawanya ke rumah Kepala Desa.

Sekitar dua puluh menit kemudian Kang Dani tiba. Perlahan-lahan kesadaran Om Arie mulai pulih. Kami memapah Om Arie di bantu beberapa orang penduduk naik ke mobil. Kami sangat berterima kasih atas pertolongan tersebut. Dan lebih melegakan Om Arie bisa ditangani dengan lebih baik di fasilitas kesehatan yang lebih memadai.

Tidak seorangpun menginginkan terjadinya kecelakaan. Namun dalam perjalanan, kegiatan bertualang ternyata memiliki resiko yang cukup tinggi. Karena tidak seperti kegiatan wisata lainnya yang didukung oleh fasilitas yang menunjang keselamatan pelaku atau pengunjung, Kegiatan Alam Terbuka justru sangat rentan terjadinya kecelakaan karena memang kegiatan ini dilaksanakan ditempat yang masih alami seperti kondisi perbukitan terjal, jurang, aliran sungai yang deras, dan kondisi alam lainnya yang berpotensi menimbulkan bahaya dan juga mempersulit upaya penyelamatan bagi korban atau penderita.

Meskipun bukan suatu hal yang diharapkan, kecelakaan memerlukan langkah antisipatif yang diantaranya dengan mengetahui atau mendiagnosa akibat kecelakaan, penanganan terhadap korban dan evakuasi korban bila diperlukan. Hal ini memerlukan pengetahuan agar korban tidak mengalami resiko cidera yang lebih besar.

Pengalaman tersebut memberikan pelajaran berharga untuk senantiasa berhati-hati.

22 Comments - Add Comment

Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.