Aquaman dan Sampah Plastik

King Orm memutuskan menyerang manusia daratan karena muak melihat tingkah manusia yang telah membuat laut penuh sampah dan tercemar. Sampah-sampah dan polusi  yang mencemari laut harus dikembalikan ke daratan. Manusia harus diperangi karena telah merusak laut. Sebagai awal, King Orm membuat tsunami dan gelombang besar untuk menghancurkan pemukiman dan membawa kembali sampah naik kedaratan. Beruntung sebelum semua keadaan menjadi kacau Arthur Curry – Aquaman yang juga saudara tiri King Orm datang menyelamatkan manusia daratan dan merebut kembai tahta atlantis.

Salah satu tema social Film Aquaman (2018) adalah tentang sampah dan polusi yan terjadi di laut. Beberapa adegan secara terbuka mengambarkan bagaimana parahnya pencemaran yang terjadi di lautan. Kontainer-kontainer yang dibuang ke laut, Tumpukan sampah,dan lainnya. Walau Aquaman hanyalah kisah fiksi rekaan tapi pencemaran di lautan adalah hal yang nyata dan merupakan masalah yang menjadi perhatian dunia

Badan Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Nairobi, Kenya, mendeklarasikan sebuah resolusi tentang sampah plastik dan mikroplastik di laut pada awal 2017. Intinya, negara-negara sepakat mencegah dan mengurangi polusi laut secara signifikan pada tahun 2025. Negara memprioritaskan kebijakan yang menghindari sampah plastik dan mikroplastik masuk lingkungan laut. [1]

Sebagai tindak lanjut, dibentuklah kelompok kerja internasional untuk mengkaji opsi-opsi penanganan sampah di laut yang mengikat secara hukum. Langkah tersebut mendapat sambutan luas karena krisis sampah plastik di laut menjadi musuh baru yang dampaknya makin nyata. Tujuan utama kelompok kerja internasional ini adalah mencari cara melenyapkan sampah laut dalam jangka panjang.

Kelompok ini mendapati bahwa delapan juta ton sampah plastik masuk ke laut tiap tahun. Daya tahan plastik yang sangat tinggi membuatnya tak mudah terurai sehingga sulit dihilangkan begitu saja. Putaran arus laut mengangkut timbunan sampah plastik ke permukaan. Selain tak sedap dipandang, beragam spesies laut mengalami keracunan

Spesies laut bukan satu-satunya makhluk hidup yang terdampak. Sampah plastik juga menjadi ancaman langsung kelangsungan hidup manusia, terutama bagi 400 juta populasi yang pangannya bergantung pada hewan laut (ikan, kerang, tiram, dan sebagainya). Selama ini, sektor perikanan telah terancam oleh eksploitasi berlebihan dan perubahan iklim. Timbunan sampah plastik membuat keadaan makin buruk.

Negara kita tercinta, Indonesia adalah negara penyumbang sampah laut kedua terbesar di dunia setelah Tiongkok dengan 87% sampah yang dibuang akan mengambang kelaut. 3,8 juta ton sampah plastik yang dibuang setiap tahun mengambang di laut. Artinya, setiap penduduk pesisir Indonesia bertanggungjawab atas 17,2 kilogram sampah plastik yang mengapung dan meracuni satwa laut.

“Dengan tingkat kecepatan seperti ini, kami memperkirakan menjelang 2025, untuk setiap 3 ton ikan, akan ada 1 ton sampah plastik di laut. Jumlah yang membuat konsekuensi ekonomi dan lingkungan menjadi sangat parah dan tak terbayangkan”

Nicholas Mallos, direktur program sampah laut di Ocean Conservancy
Lautan sampah (Kredit : Dimitar Dilkoff)
Lautan sampah (Kredit : Dimitar Dilkoff)

Sampah sering menumpuk di TPS (Tempat Pembuangan Sampah) yang dikelola seadanya. Seringkali, sampah-sampah ini tersapu angin atau terbawa air yang berakhir di lautan. Apalagi banyak TPS yang dibangun ditepi sungai. Selain itu banyak juga tempat pembuangan sampah liar yang biasanya ada dipinggir jembatan atau pinggir jalan. Menurut Ocean Conservancy, “Sampah-sampah ini nantinya akan ‘hilang’ dari pandangan karena hujan lebat atau terbawa arus sungai, dan tempat-tempat sampah akan kembali kosong untuk menampung sampah baru.”

Daripada mengutuki kegelapan, lebih baik menyalakan lilin

Menjelang senja, Pantai Losari Makassar mulai ramai oleh pengunjung. Selain untuk menikmati senja yang indah, banyak pengunjung datang bercengkrama. Para penjual minuman hilir mudik menjajakan dagangannya. Sementara itu beberapa pengunjung asik berfoto dengan latar belakang tulisan dan senja. Namun senja yang indah itu sedikit terganggu mana kala menengok ke lautan terutama pada sisi tembok yang diterpa ombak.  Banyak sampah-sampah bertebaran. Disisi lain tembok, sebuah kapal hijau bertuliskan “PATTASA’KI ” bersandar. Kapal itulah yang biasa dipakai untuk mengambil sampah di laut. Memang sudah ada kapal untuk mengambil sampah di laut. Namun kapal tersebut belum sanggup membersihkan semua sampah yang ada. Ketika hujan datang, volume sampah semakin banyak.

Bersepeda ke Pantai Losari adalah hal yang menyenangkan. Losari jadi semacam titik pertemuan dari beberapa komunitas sepeda. Komunitas SLIM atau Sepeda Lipat Makassar adalah salah satu komunitas sepeda yang biasa mengunjungi losari. Melihat kondisi laut dan pantai di sekitar Losari, maka ide untuk membersihkan laut dan pantai menjadi menguat. Tahun ini SLIM genap berusia 3 tahun dan tahun ini beberapa kegiatan bertema sosial dan peduli lingkungan telah diadakan.

Memang tidak mudah mengajak orang untuk tidak membuang sampah sembarangan. Namun dengan memberikan contoh, hal ini merupakan bentuk kampanye yang baik. Pada awalnya kegiatan ini hanya akan diadakan kecil-kecilan saja sesama anggota komunitas bersepeda. Namun dalam perjalanan waktu ternyata banyak pihak yang memberikan dukungan.

Lantamal, Polair, Navigasi Perhubungan memberikan dukungan dengan menyediakan personil dan armada perahu yang akan membersihkan laut dan pantai. Pemerintah Kota Makassar juga mendukung penuh kegiatan ini dengan membantu dengan menyediakan personil dan prasarana untuk jalannya kegiatan ini. Belakangan beberapa Instansi seperti KLH dan PIP ikut bergabung. Perusahaan BUMN, Hotel, Bank dan Restoran turut memberikan banyak dukungan dalam kegiatan ini.

Pagi itu ada sebuah rasa haru membuncah melihat ratusan orang berdiri berjejer bersiap untuk membersihkan laut dan pantai di sekitar Losari. Sementara di laut, kapal-kapal siap untuk berkelliling mengambil sampah yang ada di laut. Sementara itu beberapa Hotel dan Restoran datang dengan membawa makanan dan minuman. Sebuah kolaborasi yang sangat indah. Rasa peduli terhadap lingkungan membuat ratusan orang berkumpul hari itu. Rasa yang semoga saja menular bagi mereka yang melihat dan mengetahui kegiatan ini. Bahwa bumi yang kita tinggali ini adalah milik bersama yang harus kita sayangi dan pelihara bersama-sama.

Satu hari memang tidak akan cukup untuk membuat semuanya bersih. Namun semoga kegiatan pada hari itu, membuat semangat untuk menjaga lingkungan tetap berkobar.

Daftar pustaka:

[1] https://www.mongabay.co.id/2018/06/08/darurat-penanganan-sampah-plastik-di-laut/

7 Comments - Add Comment

Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.