Cerita Foto: Yang Pertama

Foto bukanlah hanya sebuah gambar yang merekam momen. Dibalik sebuah foto ada kisah yang tersimpan. Kadang itu terlihat namun kadang tersirat. Selembar foto bisa memberikan informasi tentang sebuah peristiwa. Selembar foto juga adalah media untuk menyimpan kenangan bagi mereka yang memotret maupun mereka yang berada di dalam foto tersebut.

Dalam banyak perjalanan, banyak foto yang diambil. Ada yang pada akhirnya akan dicetak, dipamerkan di media sosial bahkan ada yang hanya berakhir dalam media penyimpanan entah kapan dibuka lagi.

Disinilah awal dari ide untuk membuat rubrik foto cerita di blog ini. Sebuah ide untuk memposting beberapa foto dan menceritakan kisah dibaliknya. Tidak berhenti disitu, antara sebuah  foto dengan foto yang lain akan memiliki benang merah atau persamaan. Persamaan itu bentuknya bisa beragam. Bisa dari objek yang diambil ataupun dari kisah yang ada dibalik foto tersebut.

Untuk edisi pertama Cerita Foto ini temanya adalah ‘YANG PERTAMA’. Inspirasi tema cerita foto kali ini dari postingan Daeng Ipul : 5 hal pertama dalam hidup.

Setiap orang memiliki hal pertama dalam hidup. Setelah melewati hal pertama barulah kemudian kita memutuskan akan melanjutkan ataukah berhenti sampai disitu. Itu jika punya kesempatan melakukan pilihan. Lain hal jika situasinya tidak punya pilihan lain.

Ada lima foto yang memiliki benang merah yang sama. Berikut fotonya:

#1. Indahnya masa kecil

Anak-anak yang bermain di sungai yang jernih memberikan sebuah harmoni yang menentramkan hati

Anak-anak yang bermain di sungai yang jernih memberikan sebuah harmoni yang menentramkan hati

Foto ini adalah salah satu foto yang diambil dalam trip yang pertama ke Papua. Kala itu saya mendapat penugasan untuk mencari beberapa titik yang lokasinya berada di daerah pedalaman. Beberapa lokasi bisa dijangkau dengan kendaraan. Ada pula yang mengharuskan kami berjalan di dalam hutan. Saat itu hari menjelang senja, kami singgah beristirahat sejenak di tepi sebuah sungai. Airnya sangat jernih hingga dasar sungai bisa terlihat jelas. Saya menaksir, bagian terdalamnya sekitar 6 sampai 7 meter. Beberapa orang anak bermain di sungai itu. Mereka berlarian, melompat dari jembatan kayu, hingga kejar-kejaran sambil berenang di sungai. Sebuah momen yang menenangkan hati menyaksikan alam yang indah dan keceriaan anak-anak dalam sebuah harmoni.

#2. Gadis Rhee Sumbawa

Bersama dengan gadis-gadis Rhee Pulau Sumbawa setelah selesai menari

Bersama dengan gadis-gadis Rhee Pulau Sumbawa setelah selesai menari

Gadis-gadis Rhee menari sambil mengetuk-ngetuk alung. Tangannya begitu luwes bergerak diiringi musik tardisional yang begitu merdu. Tarian ini mengingatkan saya pada tarian menumbuk padi yang ada di Sulawesi Selatan. Foto ini adalah salah satu foto yang diambil dalam trip yang pertama ke Pulau Sumbawa – Nusa Tenggara barat. Sebuah perjalanan bersepeda. Sumbawa dan Gowa memang memiliki hubungan kekerabatan yang kuat sejak abad ke 17.  Suatu siang yang panas saya singgah membeli air minum di warung dan saya mendengar ibu-ibu saling bertutur dalam Bahasa Makassar. Adanya akulturasi budaya membuat saya kagum. Budaya dan kekerabatan bisa menyatukan dua tempat yang terpisah oleh laut.

#3. Cerita laut

Samar-samar terlihat Pulau Kayangan dibelakang kami. Berusaha menenangkan diri kita berenang di laut

Samar-samar terlihat Pulau Kayangan dibelakang kami. Berusaha menenangkan diri kita berenang di laut

Bagi yang pernah membaca cerita di blog ini, ada cerita tentang bagaimana saya baru belajar berenang setelah dewasa. Tak lama setelah itu saya pun mulai berenang di laut. Foto ini adalah swafoto pertama yang pertama ketika berenang di laut. Foto ini diambil diantara dermaga Pelabuhan Makassar dan Pulau Gusung. Pulau kecil yang ada di belakang kami adalah Pulau Kayangan. Saya sudah tidak menggunakan jeregen lagi dan menggantinya dengan pelampung pengaman yang lebih baik. Terkadang saya melihat kembali foto ini disaat-saat saya merasa galau. Foto ini mengingatkan suntuk tetap tenang dalam situasi apapun, melawan ketakutan dan menghadapi kenyataan.

Kisah pertama kali berenang dilaut dapat di baca di : Jerigen bocor dan sensasi berenang Popsa – Gusung

#4. Man at work

Bekerja diketinggian tanpa mengunnakan alat pengaman. Jangan ditiru. Safety First

Bekerja diketinggian tanpa mengunnakan alat pengaman. Jangan ditiru. Safety First

Saya sudah mencoba mencari foto pertama kali  bekerja di ketinggian namun sayang sekali tidak menemukannya. Foto ini sedikit menggambarkan situasi pada saat itu namun tidak terlalu mewakili apa yang terjadi saat itu. Pertama kala bekerja di ketinggian saya harus meniti palang besi sepanjang tiga meter dan berdiri pada sisi belakang antenna. Berada pada ketinggian 70 m, berdiri di ujung antenna rasanya seperti berdiri di ujung sayap pesawat. Kalau terjatuh, tidak akan ada penghalang hingga tubuh menyentuh tanah. Hal bodoh yang saya lakukan adalah saya berdiri di sana tanpa memakai pengaman apapun. Walau tidak berhasil menemukan fotonya, foto itu selalu mengingatkan saya untuk selalu berhati-hati dalam bekerja. Sesuatu yang buruk bisa saja terjadi dan menyebabkan bukan hanya berhenti bekerja namun juga kehilangan nyawa.

#5. Bike and Travel

Memang boleh sepedaan disini?

Memang boleh sepedaan disini?

Foto ini adalah foto pertama kali bersepeda di Apron Bandara. Sepeda ini milik pekerja bandara di Bandara Ngurah Rai Bali. Saya mengambil sepedanya dan bersepeda dibawah pesawat sambil menunggu teman-teman turun dari pesawat. Mereka membiarkan saya walau saya merasa sepertinya tidak boleh bersepeda di bawah pesawat. Foto ini berkesan karena menggambarkan banyak cerita di blog ini. Melakukan perjalanan dengan menggunakan sepeda.

Selembar foto memiliki kisahnya masing-masing, menggambarkan suasana dan menyimpan kenangan baik mereka yang memotretnya ataupun mereka yang ada didalam foto itu.

Kalau kalian bagaimana? Apakah memiliki selembar foto yang mengingatkan pada hal pertama yang kalian lakukan?

12 Comments - Add Comment

Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.