Dari Losari hingga ke Seruni dan kenangan bersamanya

Tahun ini tak banyak perjalanan. Begitu berbeda dengan tahun sebelumnya. Saya mencoba mengingat-ingat kembali perjalanan sepeda terjauh ditahun ini. Gelap.

Beberapa minggu yang lalu digroup Whatsapp Sepeda Lipat Makassar (SLIM)  sudah beredar beberapa daftar tujuan perjalanan. Dari yang jaraknya dekat maupun yang jauh. Belum ada rencana apapun hingga nama saya ada dalam daftar peserta untuk ikut touring Makassar – Bantaeng . Nama saya ada disana. Dimasukkan begitu saja. Mudah saja sebenarnya jika saya tidak ingin ikut.  Tinggal menghapus nama dari daftar. Beres. Namun dalam hati ada kerinduan untuk touring sepeda bersama teman-teman. Namun fakta lain kondisi fisik yang belum sembuh benar setelah sakit juga menjadi pertimbangan.

Perjalanan panjang yang selalu dirindukan

Rasa kangen touring mengalahkan rasa keraguan. Tentu saja dengan pertimbangan bahwa tahun lalu saya bersama teman-teman sudah pernah melewati jalur ini dengan sepeda. Tahun lalu tidak ada masalah yang berarti dan saya berharap tahun ini pun tidak.Beberapa part sepeda yang sudah menggangur beberapa bulan pun dipasang dan akhirnya sabtu kemarin saya bersama teman-teman Komunitas Sepeda Lipat Makassar (SLIM)  berdiri di garis start menunggu saat pelepasan oleh Bapak Gubenur Sulawesi Selatan. Mengawali perjalanan dari Makassar menuju Bantaeng  yang berjarak 124 km. Nama Bantaeng  cukup dikenal. Apalagi setelah era Bapak Nurdin Abdullah yang saat ini menjadi Gubenur Sulawesi selatan. Beliau menjadi Bupati Bantaeng sebanyak 2 periode. Perjalanan akan diawali dengan  jalur datar namun semakin mendekati Bantaeng kontur jalan akan naik turun. Tanjakan panjang dan turunan panjang.

Bersiap menuju Bantaeng

Bersiap menuju Bantaeng

Etape awal menuju Takalar ditempuh dengan canda ceria. Stamina peserta masih bugar. Matahari pagi masih memeluk dengan hangat. Walau sempat berputar-putar, Kami tiba dengan selamat di kantor Dispora Takalar yang merupakan pit stop pertama. Disana kami disambut dengan hangat oleh Bapak Kadispora Takalar. Sejuknya es buah dan semangka ditambah lagi jagung rebus menghapuskan dahaga perjalanan yang baru 40 km. Dalam rombongan terdapat teman-teman saya di kampus. Kami pun sempat berfoto bersama dan mengirimkankannya digroup alumni.

Berfoto bersama di Kadispora Takalar

Berfoto bersama di Kadispora Takalar

Panas matahari mulai mengigit manja ketika kami memulai perjalanan dari Takalar menuju Jeneponto. Saya sudah mengantisipasi dengan menggunakan baju dan celana yang panjang. Menggunakan pannier atau boncengan belakang berisi barang-barang harus mengeluarkan tenaga extra. Sangat terasa terutama pada daerah terbuka seperti jalur yang diapit sawah kiri dan kanan. Hembusan angin dari samping atau hempasan angin ketika berpapasan dengan truk besar membuat kayuhan terasa lebih berat. Beberapa teman menyarankan agar tas pannier disimpan saja di mobil support. Namun kerinduan saya untuk kembali merasakan sensasi touring menampiknya. Biarlah seperti ini.

Cuaca cerah ketika memasuki Kota Takalar

Cuaca cerah ketika memasuki Kota Takalar

Seperti kata bijak yang selalu dikutip Om Syarif. “Focus on journey not destination”. Biarlah saya menikmati perjalanan ini dengan segala sensasinya.

Group peserta kemudian terbagi. Setidaknya menjadi tiga bagian. Saya berada di group yang paling belakang bersama sekitar 10 orang peserta. Secara kebetulan group yang belakang ini orang-orangnya santai. Tidak terlalu terfokus pada waktu dan ingin menikmati perjalanan. Om Ali yang bersama -sama di group ini selalu mengingatkan untuk senantiasa bersama. Jangan meninggalkan peleton. Satu berhenti yang lain akan ikut berhenti. Walau perjalanan menjadi lebih lambat namun suasanannya jadi lebih ceria. Kami menyempatkan singgah makan semangka, tiduran di bale-bale menunggu yang lain dan singgah Sholat ketika azan berkumandang.

Walau badan lelah tapi harus selalu ceria

Walau badan lelah tapi harus selalu ceria

Suasana ceria ini agak mengendorkan disiplin saya soal minum. Bersepeda di udara panas dan jalur naik turun butuh sedikit strategi. Sedari awal saya minum setiap 15 menit sekali. Walaupun hanya seteguk. Hal ini untuk mencegah tubuh dehidrasi dan keram. Karena sering melewatkan waktu minum, setelah melewati sebuah tanjakan paha kanan saya tiba-tiba keram. Saya segera melepas cleat yang terpasang pada pedal. Setelah mengatur napas dan minum beberapa teguk. Syukurlah, berangsur-angsur rasa sakit di paha kanan saya hilang. Saya mendapatkan satu pelajaran yang berharga hari itu. Pelajaran berharga yang kedua datang tak lama berselang. Euforia pit stop sudah dekat membuyarkan konsentrasi saya dalam menjaga kecepatan. Bahkan dalam tanjakan saya sedikit menaikkan kecepatan karena mengira pit stop sisa tinggal satu turunan lagi. Ternyata masih ada beberapa tanjakan dan turunan lagi yang harus dilewati. Beberapa ratus meter sebelum pit stop, paha kanan saya yang keram. Sakitnya luar biasa sampai saya harus menepi ditengah jembatan. Setelah menunggu beberapa menit, rasa sakitnya berangsur berkurang hingga saya bisa mengayuh kembali menuju pit stop.

Jalan masih jauh, semangat jangan kendor

Jalan masih jauh, semangat jangan kendor

Kami menjadi rombongan terakhir yang sampai di Rujab Sekda Jeneponto yang merupakan pit stop kedua. Hidangan coto sudah menanti. Coto kuda yang menjadi coto yang paling dicari karena merupakan khas Jeneponto. Rasanya jangan ditanya. Walau badan  terasa lelah, namun tenaga berangsur pulih. Sebagian teman-teman sedang melaksanakan sholat. Kami tadi sempat mampir sholat, sehingga menyempatkan waktu untuk kembali beristirahat. Setelah bersilaturahmi dan berfoto bersama Bapak Sekda Jeneponto, perjalanan kamipun lanjutkan menuju ke Bantaeng .

Berfoto bersama Sekda Jeneponto

Berfoto bersama Sekda Jeneponto

Hujan yang cukup deras mengawali perjalanan dari Jeneponto menuju Bantaeng. Jalur ini cukup berat karena harus melewati tanjakan dan turunan yang cukup tinggi. Namun kelelahan melewati jalur ini terobati dengan pemandangan yang indah sepanjang jalan. Gunung dan perbukitan. Begitupun savana yang rumputnya mengering. Musim hujan telah datang, tak lama lagi savana yang kering ini akan kembali menghijau. Jalur diakhiri dengan pemandangan pantai ketika sampai di Bantaeng.

Kami beristirahat sejenak rest area Bantaeng . Rest Area ini terletak di tugu batas. Bangunannya baru dan bersih. Sebuah mobil bak terbuka menunggu disana. Diatas baknya beberapa orang lelaki memainkan lagu dangdut dengan musik tanjidor. Tanjidor adalah orkes musik yang mirip dengan marching band atau drum band namun dengan skala yang lebih kecil. Sebuah pertanyaan dibenak saya bagaimana orkes musik yang dikenalkan bangsa Portugis diawal abad 14 bisa sampai di Sulawesi Selatan.

Selalu fokus

Selalu fokus

Sama seperti touring pada tahun sebelumnya, iringan musik tanjidor menemani perjalanan kami memasuki kota Bantaeng. Baru beberapa kilometer, Mobil Patwal Polisi dan mobil yang membawa pemain tanjidor menepi. Di tepi jalan puluhan orang mengenakan baju bertuliskan PCC sudah menunggu. Ternyata Ruko tempat kami singgah ini adalah Sekertariat Panaikang Cycling Club (PCC)  Bantaeng. Sambutan yang meriah dan suguhan yang lezat pun kembali kami dapatkan. Rasa lelah setelah hari ini bersepeda lebih dari 100 km pun perlahan sirna. Begitupun batin yang bertambah senang dan bersyukur bahwa dalam perjalanan ini kami banyak menerima bantuan dan keramahan dari banyak orang. Bersama PCC, kami bersama-sama bersepeda berkeliling Kota Bantaeng. Banyak orang yang berdiri ditepi jalan yang kami lewati dan anak-anak sekolah yang bersorak ketika kami lewat.

Sambutan oleh PCC Bantaeng

Sambutan oleh PCC Bantaeng

Sekitar pukul 16.30 kami finish di Pantai Seruni Bantaeng . Rasa puas terpancar dari wajah kami. Diantara kami ada yang sudah melakukan touring ribuan kilometer,ada yang ratusan kilometer dan ada juga baru pertama kali touring dengan jarak diatas 100 km. Bukan jarak bukanlah yang menjadi penentu karena setiap perjalanan tentu memiliki kenangan dan ceritanya masing-masing. Walau perjalanan ini bukan lomba. Namun kami bangga telah mengalahkan diri sendiri. Keinginan untuk menyerah, keinginan untuk berhenti. Dan pada akhirnya kami merasa bukan apa-apa di alam ini. Perjalanan ini hanyalah noktah yang sangat kecil dibandingkan luasnya alam ini.

Berdoa dan bersyukur atas keberhasilan perjalanan

Berdoa dan bersyukur atas keberhasilan perjalanan

Terima kasih sebesar-besarnya untuk Om Sahrul Bayan (Om SBY) Kadispora Kab.  Bantaeng  yang memberikan support yang luar biasa dalam perjalanan ini.  Om Muhammad Ishak (Om Ishak) Ka-Rutan Bantaeng  yang telah menjadi tuan rumah yang sangat baik selama kami di Bantaeng. Om Rahmat (Om RK) yang juga telah menerima teman-teman dengan baik di kediamannya. Semoga Allah SWT membalas kebaikan Om-Om semua. Terakhir terima kasih kepada semua pihak,  Yamaha,Dispora Takalar, Sekda Jeneponto, PCC Bantaeng  dan semua pihak yang kami tidak bisa sebutkan satu satu. Semoga kesuksesan menyertai kita semua.

35 Comments - Add Comment

Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.