Jejak roda di lereng Bawakaraeng

Tahun 2004, hari Jumat. Sebagian penduduk pria masih berada di Masjid. Suara gemuruh terdengar. Dalam hitungan detik sebagian wilayah kampung tertimbun ratusan ribu kubik material. Longsoran yang menutupi lembah. Hampir 600-an orang mengungsi, 33 orang tewas, 800 ekor ternak hilang, 12 unit rumah dan satu sekolah tertimbun. Belum lagi lebih 200 hektar lahan pertanian dan perkebunan tertimbun. Peristiwa yang begitu membekas bagi penduduk Lengkese.

Hari ini penduduk kampung Lengkese tinggal sekitar 70 KK. Sebagian besar penduduk telah direlokasi ke tempat baru. Hanya daerah – daerah yang berada di wilayah relative aman masih dihuni oleh penduduk.

Kampung Lengkese terletak di lereng Gunung Bawakaraeng. Terletak diujung salah satu ujung jalan. Kampung terakhir tempat para pendaki biasa menitipkan kendaraan jika akan menikmati Danau Tanralili. Danau Tanralili sendiri adalah danau yang terbentuk dari cekungan dalam akibat longsoran Gunung Bawakaraeng. Peristiwa yang saya ceritakan di awal.

Awalnya kami akan bersepeda dari Makassar menuju Malino. Jaraknya 73 km dengan jalan yang lumayan menanjak. Pengalaman bersepeda ke Malino akan saya ceritakan saja di post yang lain. Beberapa orang teman batal ikut dan kami harus kembali lagi ke Makassar sebelum pukul 18.00.

Perjalanan ini menyisakan dua orang. Saya dan Kang Dani. Karena sepeda sudah dipersiapkan dan waktunya lumayan mepet, maka jalurnya diubah menjadi bersepeda di seputaran Malino saja. Lengkese adalah destinasi yang tepat.

Jam 6.50 pagi, saya bersama Kang Dani berangkat dari Makassar. Sepeda kami bongkar dan diletakkan di bagasi. Perjalanan ke Malino di tempuh dalam waktu 3 jam. Kondisi jalan cukup ramai bersaing dengan truck pengangkut material. Setelah membeli bekal untuk di jalan, kami berbelok kearah air terjun Takapala. Hari masih pagi. Belum banyak pengunjung menuju air terjun membuat waktu tempuh perjalanan tidak terlalu lama.

Dalam perjalanan ini kami  menggunakan sepeda jenis roadbike. Jauh sebelum mengenal sepeda jenis cylocross, kami biasa menggunakan sepeda roadbike bertualang ke tempat seperti ini.  Cyclocross sendiri adalah hasil “perkawinan” jenis sepeda gunung (mountain bike) dengan sepeda jalan raya (roadbike). Menggunakan sepeda jenis roadbike di medan berbatu dan tidak rata memang tidak lazim. Sepeda jenis ini memang diperuntukkan untuk medan jalan raya. Model grip ban bisa menggunakan jenis gravel namun ketiadaan suspensi membuat kenyamanan saat melewati jalan berbatu menjadi cukup menantang.

 

Sepeda dirangkai dan check sebelum perjalanan di mulai

Sepeda dirangkai dan check sebelum perjalanan di mulai

Setelah memarkirkan mobil sekitar satu kilometer setelah air terjun Takapala, kami pun mulai melakukan persiapan. Sepeda dirangkai kembali, peralatan dan bekal yang akan kami gunakan dalam perjalanan pun dicek. Setelah semuanya siap, perjalanan pun dimulai. Track dimulai dengan jalan panjang menurun.

Akhir- akhir ini saya kurang fit, malam sebelum berangkat hanya sempat tertidur selama 2 jam. Makassar selama seminggu diguyur hujan deras. Cuaca cukup lembab dan saya pun kena flu. Kilometer-kilometer pertama terasa cukup berat. Mulai dari nafas yang pendek sampai pinggang yang sakit. Untunglah Kang Dani mengerti dengan kondisi ini sehingga sabar berhenti menunggu sejenak bila jarak antara kami agak jauh.

Kang Dani di Jembatan Merah

Kang Dani di Jembatan Merah

Setelah melewati Jembatan Merah sakit yang melanda pinggang berangsur-angsur reda. Kondisi jalan yang menanjak tajam tanpa jeda kadang-kadang membuat kami terpaksa menuntun sepeda. Keindahan yang tersaji di sepanjang jalan mengalihkan napas yang tersengal-sengal dan otot yang mulai sakit.

“Singgah di rumah, Mister ”seorang ibu meneriaki kami. Saya tertawa. Baru kali ini disangka orang asing.

Keramahan penduduk dan pemandangan alam yang indah memberikan kesan yang dalam. Karena baru pertama melewati jalur ini, kami banyak singgah untuk bertanya arah. Alih-alih hanya menujukkan jalan, kami kerap ditawari singgah untuk beristirahat.

Jalan panjang menanjak pun berakhir di kampung Lengkese.

Kami bertemu dengan seorang bapak yang sedang mengangkut bambu. Beliau dengan ramah menawari untuk singgah beristirahat di rumahnya. Pada awalnya kami sungkan karena takut merepotkan. Namun karena ingin beristirahat maka akhirnya kami terima juga tawaran tersebut.

Rumahnya terletak di ujung jalan beton. Rumah kayu yang asri. Sebuah baliho kelompok pencinta alam tergantung di dinding rumahnya. Nampaknya rumah ini adalah salah satu tempat persinggahan ketika akan pergi ke Danau Tanralili.

“Dekat sini ada air terjun, ikuti saja jalan setapak ini ” kata Bapak yang kami tempati rumahnya beristirahat.

Kami tertarik untuk kesana. Dengan bersepeda kami melewati jalan yang kecil.Namun baru beberapa puluh meter, jalan itu semakin terjal dan licin. Kanan kiri jalan terdapat tanaman kopi. Kami pun jadinya harus memanggul sepeda.

Setelah melewati kebun kopi, kami masuk ke kawasan hutan. Dari jauh terdengar gemuruh air. Kami terus mengikuti jalan dan mendapati sebuah air terjun. Saya melihat pengukur jarak. Dua kilometer dari rumah bapak tadi. Ukuran jauh dekat bisa jadi berbeda bagi setiap orang.

Air Terjun

Air Terjun

Masih ada sedikit waktu. Mumpung kami disini, jika kami cukup cepat kami bisa menyempatkan ke lembah Loe sebelum jam 3. Setelah menikmati kopi dan makanan ringan, kami berpamitan. Tak lupa ucapan terima kasih atas kebaikan hatinya bersedia menerima kami di rumahnya.

view Lembah Loe

view jalan menuju Lembah Loe

Penduduk menunjukkan jalan pintas yang bisa kami lewati jika akan ke lembah Loe. Di rute ini kami akan menyeberang sungai. Dalam perjalanan, kami bertemu penduduk dan mendapat informasi jika sungai yang akan kami seberangi arusnya sedang deras. Tidak aman untuk diseberangi.

Kami tetap melanjutkan perjalanan. Kontur lembah ini berupa tanjakan dan beberapa bagian cukup landai sehingga masih memungkinkan untuk di kendarai dengan sepeda. Jam menunjukkan nyaris pukul 14.00 ketika akhirnya kami memutuskan untuk balik arah. Target sebelum pukul 18.00 kami harus sudah sampai di Kota Makassar. Setelah memanggul sepeda kurang lebih satu jam akhirnya kami sampai di jalan beton.

Panggul Sepeda

Panggul Sepeda

Perjalanan pulang di dominasi oleh turunan. Sepeda bisa dipacu sampai kecepatan 60 km/jam. Perlu sangat hati-hati untuk perjalanan turun.  Beberapa kali ban belakang terangkat ketika  melewati turunan berkelok panjang. Hanya butuh waktu sekitar 50 menit untuk sampai kembali di tempat kami memarkirkan kendaraan.

Berpose di Jembatan Merah

Berpose di Jembatan Merah

Sajian pemandangan yang indah menuju Lengkese adalah oase. Disana alam dan manusia menyatu dalam harmoni. Alam yang indah di lereng bawakararaeng tempat kami menjejakkkan roda melambaikan kerinduan untuk kembali kesana. Tempat dimana lukisan indah ciptaan Tuhan di bentangkan di permukaan bumi.

 

32 Comments - Add Comment

Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.