Kurri Caddi yang terlupakan

Melewati jalan berbatu ini membuat hati saya diselimuti oleh pertanyaan. Apakah kami melewati jalan yang benar? Apakah jalan ini akan mengantar kami ke Kurri Caddi ? Matahari yang bersinar semakin terik dan jalan berbatu ini menguji sampai dimana kesabaran kami.

Akses masuk ke Kurri Caddi nyaris tak tampak seperti pintu masuk ke sebuah kawasan perkampungan pada umumnya. Lebih mirip gerbang pabrik. Pintu besi yang tingginya sekitar 3 meter, Warnanya cokelat dipenuhi karat, tanpa plang nama. Pintu itu jebol karena diamakan usia.  Beruntung kami bertemu penduduk lokal. Dari merekalah kami tahu jalan masuk. Di balik pintu besi jebol tadi, kami melewati kawasan bekas sebuah pabrik dan gedung. Sisa-sisa dinding masih ada. Begitu pun lantai beton dan beberapa rumah panggung.

Melihat Kurri Caddi dari jauh

Melihat Kurri Caddi dari jauh

Kurri Caddi adalah sebuah perkampungan nelayan yang terlisolir. Jaraknya hanya 25 km dari perbatasan Maros – Makassar tapi dari pantai ini  Pelabuhan Makassar jelas terlihat. Tahun 80-an sampai 90-an ekspansi tambak menjadi begitu besar di Sulawesi Selatan. Hal ini dipicu karena meningkatnya harga udang dan beraneka jenis komoditas yang dihasilkan tambak. Dengan kondisi yang strategis tak jauh dari pelabuhan besar dan dekat dengan laut, beberapa perusahaan besar masuk ke Dusun Kuri Caddi. Mengubah hutan bakau  menjadi petakan empang.

Namun beberapa tahun kemudian bisnis ini tidak berjalan dengan baik. Perusahaan-perusahaan besar lambat laun meninggalkan Kurri Caddi. Masa kejayaan tambak telah berlalu, meninggalkan petakan empang luas, gudang, tembok-tembok pembibitan benih ikan dan jalan rusak yang kami lewati.

Jalan manakah yang harus kutempuh

Jalan manakah yang harus kutempuh

Hari itu adalah hari pertama trip sepeda sahabat saya Shar. Saya berusaha tidak memberitahunya jarak yang sesungguhnya. Pertama, untuk membuatnya tetap semangat. Kedua, saya juga belum pernah ke Kurri Caddi sebelumnya dan yang ketiga data-data jarak hanya berupa koordinat dan jarak yang diberikan google map. Belum menghitung jika kami tersesat dan kondisi jalan. Diluar itu ada aturan velominati kurang lebih seperti ini: Bagi yang pemula dalam bersepeda sebaiknya jangan diberitahu soal jarak, cukup dibohongi saja.

Velominati bukan pembuat aturan resmi. Mereka kondang karena aturan-aturannya seru. Semua masuk akal, dan dijelaskan secara gamblang, tapi tujuannya juga untuk menghibur. Karena ada lucu-lucunya, bikin kita geleng-geleng kepala (sambil mungkin menyetujui).

Saya sedikit keteteran karena menggunakan roadbike di jalan berbatu. Berbeda dengan Shar yang menggunakan Mountain Bike yang sepertinya tidak terlalu sulit melewati jalan tersebut. Tantangannya bukan jalan berbatu saja, Beberapa kali kami harus menyeberangi beberapa jembatan kayu. Akses seperti ini sulit untuk dilewati mobil.

Perjalanan ini akhirnya membawa kami sampai ke tepian pantai. Saking semangatnya saya ingin cepat-cepat sampai tidak memperhatikan jalan dengan baik. Ban depan tenggelam di pasir pantai. Tidak sampai jatuh. Namun selangkangan saya cukup sakit terbentur sadel sepeda.

Kami berjalan diatas pasir yang berwarna kecoklatan. Memandangi pantai Kurri Caddi ibarat seorang gadis cantik yang perlu dipoles agar kecantikannya terlihat sempurna. Seorang teman teman asal Maros bercerita dahulunya pantai tersebut merupakan pantai yang ramai dikunjungi untuk berekreasi. Dengan keterbatasan akses seperti ini siapa yang mau datang sekarang?

Pohon besar di tepian pantai

Pohon besar di tepian pantai

Sebuah plang bertuliskan “ Kawasan Rehabilitasi Mangrove Kurri Caddi “ terpampang tegar sebelum memasuki Dusun Kurri Caddi. Setidaknya dalam beberapa waktu kedepan, harapan untuk melihat Kurri Caddi kembali asri menjadi hutan bakau kembali hadir.

Sesekali kami berpapasan dengan motor-motor yang membawa kebutuhan untuk warga kampung Kurri Caddi. Masyarakat Kurri Caddi umumnya bekerja sebagai nelayan dan mengelola tambak. Kami mengikuti motor-motor itu dan masuk ke perkampungan nelayan. Beberapa warga terlebih dahulu menyapa saya dengan ramah.Inilah khas orang Indonesia.

Perahu nelayan di Pantai Kurri Caddi

Perahu nelayan di Pantai Kurri Caddi

Saya percaya Kurri Caddi akan kembali terlihat lebih cantik. Ketika ekosistem bakaunya telah kembali indah, ketika jalan sudah diperbaiki dan ketika lingkungannya tertata lebih baik lagi. Perjalanan ke Kurri Caddi telah memberi inspirasi dan cara pandang yang baru dalam menikmati perjalanan. Sebuah perjalanan sejatinya bukan hanya untuk wisata melihat pemandangan yang indah, kuliner yang lezat dan hal-hal yang lain. Sebuah perjalanan sejatinya memberikan inspirasi,nasihat dan cara pandang.

Menanti Kurri Caddi yang lebih indah

Menanti Kurri Caddi yang lebih indah

28 Comments - Add Comment

Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.