Menjelajah Hutan Tabo – Tabo

Bertemu hewan liar didalam hutan adalah salah satu kemungkinan. Alam liar adalah rumah mereka. Apakah yang sebaiknya dilakukan? Lari ? ataukah biarkan saja.

Walau dalam beberapa kesempatan saya memasuki hutan. Saya terus terang tidak berharap bertemu hewan liar apalagi dengan ukuran besar atau yang masuk dalam kategori berbahaya. Suatu saat ketika kami berada dalam kawasan Bukit Barisan di Sumatera, teman seperjalanan saya menceritakan bagaimana mereka tertahan dalam shelter di tengah hutan karena disekitar mereka ada hariamu/ macan dahan. Hal itu membuat saya agak parno selama perjalanan. Semua indera dalam tubuh dikerahkan itu menangkap bunyi-bunyi aneh ataukah bentuk-bentuk aneh yang terlintas. Begitupun suatu saat ketika dapat tugas survey dan masuk ke dalam hutan di Papua. Saya yang waktu itu hanya berdua, berjalan dengan hati-hati setelah menemukan banyak kotoran babi hutan dan bekas kulit ular.

Suatu saat seorang teman minta ditemani untuk membantu kegiatan yang melibatkan remaja. Salah satu kegiatan dari rangkaian kegiatannya adalah menjelajah dalam hutan. Untuk memastikan keselamatan dan membuat rutenya maka kami sedianya akan menjelajah lebih dulu. Daerah yang dipilih untuk kegiatan tersebut adalah hutan Tabo-tabo.

Hutan Tabo-tabo terletak di Desa Tabo-Tabo, Kecamatan Bungoro Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Sekitar 80 km dari Kota Makassar.Jalan menuju hutan Tabo- Tabo sebagian besar merupakan jalan beton. Walaupun demikian sekitar 2 km masih terdapat jalan yang rusak sebelum sampai di pintu gerbang hutan.Secara administrative Hutan Tabo-Tabo merupakan naungan dari Balai Diklat Kehutanan, Kementrian Kehutanan. Hutan Tabo- Tabo merupakan Kawasan Hutan dengan tujuan khusus untuk Hutan Pendidikan dan Pelatihan di Bidang Kehutanan.

Sesuai dengan fungsinya, Hutan Diklat Tabo-Tabo dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang cukup memadai. Kami memasuki gerbang Hutan Tabo-Tabo yang jalannya merupakan aspal macadam. Melewati jalan naik turun berkelok yang bermuara pada kawasan yang terdiri dari beberapa gedung.

Suasana Kawasan Diklat Tabo-Tabo

Suasana Kawasan Diklat Tabo-Tabo

Sebagai hutan diklat kawasan ini dilengkapi dengan asrama,dapur,rumah karyawan,Mushalla,balai pertemuan dan berbagai penunjang lain. Daya tampung tempat ini untuk kurang lebih 150 orang. Untuk menggunakan gedung di tempat ini diharuskan mengajukan ijin pada Balai Diklat Kehutanan. Namun jika hanya akan datang berkunjung dalam rombongan kecil diharuskan melapor kepada petugas kehutanan yang stay ditempat ini.

Ijin ini diperlukan karena petugas akan memberikan pengarahan terkait keselamatan dan menjaga keasrian hutan ini. Hal utama yang diberikan terkait tindakan-tindakan yang berpotensi merusak alam dan penanggulangan bahaya kebakaran.

Hutan diklat Tabo-Tabo telah dilengkapi dengan jalur atau track-track hiking. Jalur-jalur ini panjangnya berbeda-beda dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda pula.

Salah satu petunjuk jalur Tracking

Salah satu petunjuk jalur Tracking

Pak Ahmad- pegawai dinas kehutanan diklat Tabo-Tabo mengajak kami berkeliling.Biasanya dalam seminggu beliau rutin berpatroli di kawasan seluas 601,26 Hektar ini. Perjalanan dimulai dengan track yang cukup landai melewati sungai dan jembatan bambu. Jalan kemudian menanjak dan berbelok memasuki celah-celah hutan.

Tracking di Hutan Tabo-Tabo

Tracking di Hutan Tabo-Tabo

Setelah menempuh tanjakan kurang lebih 2 km kami sampai di sebuah Huma dengan hutan. Di tempat ini merupakan tempat pembuatan gula aren. Sebuah tungku yang dibuat dari lubang tanah dan diatasnya terdapat sebuah wajan besar. Air nira yang ditampung dalam wadah bambu kemudian disaring. Air saringan ini kemudian dimasak sampai mengental. Setelah mengental, Air Nira ini kemudian dicetak dalam cetakan yang berbentuk persegi. Setelah dingin barulah kemudian Gula Aren tersebut di kemas.

Huma untuk memasak gula aren

Huma untuk memasak gula aren

Untuk memperoleh Nira sebagai bahan baku pembuatan gula aren di dapatkan dari pohon-pohon enau yang banyak tumbuh di kawasan ini.

Bunga aren yang disadap niranya adalah bunga jantan yang akan tumbuh mulai dari ruas paling atas secara terus menerus sampai ke ruas yang paling bawah. Sementara bunga betinanya yang menghasilkan buah kolang-kaling hanya tumbuh pada ruas-ruas paling atas. Usia produktif aren sebagai penghasil nira bisa mencapai 10 tahun lebih. Usia sadap satu malai bunga bisa sampai 6 bulan.

Setiap kali sadap selama 12 jam, tangkai bunga aren mampu menghasilkan nira sebanyak 5 liter. Volume hasil nira ini akan meningkat pada musim penghujan, namun rendemennya rendah. Pada musim kemarau hasil nira akan menurun tetapi rendemennya tinggi. Tepat menjelang bunga mekar, seluruh malai dipotong dan hanya disisakan tangkainya. Bekas potongan dibalut dengan kain atau karung dan diikat. Pada hari berikutnya ujung potongan itu diberi buluh bambu sebagai tampungan air nira yang akan terus-menerus menetes.

Demikian seterusnya pagi dan sore sampai tangkai aren habis terpotong pisau sadap. Satu tangkai malai aren bisa disadap terus-menerus sampai 6 bulan. Selanjutnya penyadap akan menunggu keluarnya bunga berikutnya. Pada tanaman aren, kadang-kadang dalam satu batang keluar bunga jantan secara bersamaan. Hingga dalam satu batang itu dilakukan penyadapan dua malai bunga sekaligus.

Pondok peristirahatan

Pondok peristirahatan

Di tengah Hutan Tabo-Tabo terdapat sebuah air terjun dengan tiga tingkat,disana kemudian kami melepas lelah sejenak sebelum kami mengakhiri tracking selama 2 jam di titik start sebelumnya.

Pertemuan saya dengan hewan liar didalam hutan justru terjadi di hutan Tabo- Tabo. Kala itu saya memutuskan untuk jalan sendiri karena ingin lebih jauh melihat-lihat. Sesuai dengan petunjuk Pak Ahmad, saya akan mengikuti sebuah jalur yang akan membawa saya kembali ke camp awal. Lagipula saya sudah menyimpan koordinat titik awal tadi sehingga akan memudahkan untuk kembali.

Setelah beberapa jauh berjalan, diatas pohon saya melihat sekawanan monyet beristirahat tak jauh dari sungai. Ada sekawanan lagi yang berada di atas pohon. Saya lanjut berjalan dan depan saya berpapasan dengan monyet dengan ukuran besar. Antara takjub dan terkejut, saya berdiri dengan jarak kurang dari 100 m dengan sepasang monyet hitam endemik Sulawesi dengan nama latin Macaca Maura. Warna rambutnya coklat kehitaman, dengan warna pucat di bagian tunggingnya. Si monyet jantan kemudian berjalan mengitari sang betina dan berteriak “ ga..ga..ga” dengan nyaring.

Saya hanya diam dan membiarkan sepasang monyet itu berlalu. Tentunya dengan sikap waspada. Saya pernah membaca bahwa sebenarnya hewan liar sebenarnya takut dengan manusia. Mereka hanya menyerang jika mereka digangu atau sumber makanan mereka diambil.

Monyet dalam bahasa lokal biasa disebut : Lesang (Pinrang), Ceba (Bugis), Dare (Makassar) hanyalah satu dari keragaman fauna dari hutan tabo-tabo. Masih banyak fauna lain seperti Tarsius,Tupai,Musang, kuskus dan masih banyak lagi yang terdalam dalam hutan Tabo-Tabo.

Alam telah banyak memberikan kebaikan kepada kita. Sepatutnya kita menjaganya agar tetap asri dan lestari.

25 Comments - Add Comment

Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.