Pelajaran Pertama

“Buang kucing-kucing itu! Bikin kotor! Makannya juga banyak!”

Si anak hanya bisa tertunduk lemas. Sementara sang ayah berdiri dengan mata menyala dan muka kesal.

“Besok !” tegasnya sekali lagi.

Si anak hanya bisa memandangi dengan lemas kucing-kucing itu. Sepuluh ekor kucing dengan beraneka ragam warna. Pada awalnya seekor kucing betina datang ke rumah itu. Kucing itu kemudian dipelihara dan makan dari makanan yang diberikan tuan rumah. Kucing itu datang dan pergi kerumah itu. Sampai akhirnya kunci betina itupun hamil.

Kucing itu melahirkan empat ekor anak. Namun hanya seekor yang bertahan hidup. Seekor kucing betina yang bulunya sama persis dengan induknya.

Kucing kecil itu tumbuh dengan cepat. Dia adalah kawan baik si anak. Dua ekor kucing betina itu hidup bahagia di rumah itu.

Sampai akhirnya ketika kucing betina itu cukup besar, kucing itupun mulai sering pergi meninggalkan rumah.

Tak lama kemudian kemudian kucing betina itu pun hamil dan induknya yang masih tinggal di rumah itupun juga hamil.

Kedua kucing melahirkan dalam kurung waktu yang nyaris bersamaaan. Masing- masing melahirkan empat ekor. Anak- anak kucing kecil dengan bulu perpaduan merah,putih dan hitam.

Rupanya kehadiran sepuluh ekor kucing sekaligus menjadi masalah di rumah itu. Kotoran kucing menyebar kemana-mana. Terkadang kucing-kucing itu mengambil makanan yang diletakkan tuan rumah diatas meja.

Sampai akhirnya sang ayah memutuskan tak lagi akan memelihara semua kucing-kucing itu. Sang anaklah yang diberi tugas untuk membuang kucing-kucing itu.

Karena tidak tega, sang anak membuang kucing itu tidak terlalu jauh dari rumah, kucing-kucing itu bisa kembali ke rumah hanya dalam hitungan beberapa jam. Tentu saja sang anak jadi sasaran kemarahan sang ayah karena tidak bisa melaksanakan tugasnya.

Sekali lagi sang anak melaksanakan tugasnya. Kali ini kucing-kucing itu akan dibawa ke tempat yang jauh. Kucing-kucing itu dimasukkannya kedalam karung. Lalu diletakkan dalam boncengan sepedanya.

Dalam perjalanan, Sang anak singgah beristirahat sejenak. Kucing-kucing yang berada didalam karung itu mulai kepanasan dan mengeong. Seorang nenek datang menghampirinya.

“Apa yang ada didalam karung itu?” tanyanya sambil menunjuk.

“Ada sepuluh ekor kucing dalam sana. Aku akan membuangnya. Kucing-kucing itu terlalu banyak di rumahku” jawab Sang anak.

“Kamu itu tega sekali ya. Apa salahnya memelihara kucing” si nenek menatapnya tajam

“Aku akan sangat berterima kasih kalo nenek mau mengambil dan memelihara kucing-kucing ini”

Nenek itu terdiam dan pergi meninggalkan sang anak tanpa berkata apa-apa.

Sang anak hanya memandang nenek itu dari kejauhan. Hatinya bersungut. Dia tentu saja tidak rela kucing-kucing itu dibuang. Namun lebih tidak rela lagi kalo dia disalahkan ketika disuruh membuang kucing-kucing itu. Banyak orang hanya pandai mencela, namun tidak bisa memberikan solusi katanya dalam hati.

Sang anak pun melanjutkan perjalanannya. Setelah dirasa cukup jauh, Karung berisi kucing itupun di turunkan dari sepedanya. Perlahan dibukanya tali pengikatnya. Kucing-kucing itupun berhamburan dari dalam karung.

Kucing-kucing itu nampak kebingungan melihat tempat baru. Sang anak pun melihatnya dengan perasaan tak menentu.

Tak lama sang anak pun melangkah pergi dari tempat itu. Dia menengok ke belakang dan seekor kucing mengeong dengan aneh.

Sejak saat itu sang anak tidak pernah lagi melihat kucing-kucing itu dan hari itu adalah pelajaran pertamanya menjadi Algojo.

Disclaimer: cerita diatas hanyalah fiktif, kesamaan cerita dan pelaku hanyalah kebetulan saja.

12 Comments - Add Comment

Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.