Puisi Gie di Hutan Pinus Bissoloro

Suatu hari dibulan Desember, Hujan baru saja turun. Kabut dingin menyelimuti pohon-pohon pinus. Saya bersama tiga orang teman seperjalanan berlari dijalan setapak. Udara dingin membuat setiap helaan napas seperti asap. Sesekali kami melompat menghindari kubangan lumpur. Momen ini membuat ingatan saya melayang pada sepenggal bait puisi yang ditulis Soe Hok Gie :

kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah Mandalawangi.
kau dan aku tegak berdiri melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin

(Sebuah Tanya, Soe Hok Gie,1969)

Saya melihat jam dan tanggal. Hari ini 48 tahun yang lalu, Soe Hok Gie meninggal sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27.

Kita sering pergi ke tempat yang jauh untuk melihat dan menikmati alam. Namun terkadang kita tidak menyadari bahwa ada sebuah tempat yang tak jauh dari rumah. Memiliki keindahan yang tak kalah dari tempat-tempat yang jauh.

Desa Bissoloro terletak di Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa Propinsi Sulawesi Selatan-Indonesia. Bissoloro berada pada ketinggian sekitar 1500 mdpl dan berjarak sekitar 40 kilometer dari kota Makassar. Pemandangan alamnya indah dan eksotik, dengan hawa sejuk. Selain keindahan itu, Bissoloro menyuguhkan pemandangan hutan pinus yang rimbun dan asri.Dari Bissoloro jika memandang ke selatan terlihat kota Je’neponto dan Takalar kemudian ke barat nampak kota Limbung dan Sungguminasa, serta mata ke utara sedikit nampak jelas kota Makassar dan Pelabuhan Sukarno-Hatta.

Semenjak event Musik Hutan,nama Bissoloro mulai dikenal. Jauh sebelum memulai perjalanan ini, Kang Dani sudah pernah menyinggung tempat ini. Deskripsi yang digambarkannya tentang ini sangat menarik. Termasuk rasa penasarannya karena dalam perjalanan sebelumnya tidak menemukan air terjun Barassang di Bissoloro. Ketika kesempatan dan waktu memungkinkan, perjalanan ini pun menjadi nyata.

Pagi itu saya bersama Kang Dani, Kang Setia dan Om Ride memulai perjalanan menuju ke Bissoloro. Jarum jam menunjukkan pukul 6. Sesuai rencana, kami akan bersepeda menuju Bissoloro sejauh  40 km, melanjutkan dengan lari atau Hiking ke Air Terjun Barassang sekitar 5 – 7 km dan diakhiri bersepeda kembali ke Makassar. Hal yang menantang adalah jenis sepeda. Kang Dani mengunakan sepeda jenis Road Bike, Om Ride menggunakan MTB, saya bersama Kang Setia menggunakan Sepeda Lipat. Karena jenis sepedanya berbeda,diawal perjalanan kami kadang terpisah.Perjalanan kami melewati poros Makassar- Malino dan akan berbelok di Bili-Bili.

Melewati jalan menanjak

Melewati jalan menanjak

Setelah melewati Bili-Bili, jalan mulai menanjak.Walaupun masih cukup landai namun lumayan menguras tenaga. Ada dua jalur menuju Bissoloro, namun nantinya kedua jalur ini akan bertemu pada sebuah pertigaan. Agar perjalanan ini menjadi lebih semarak, kami memutuskan untuk pergi dan pulangnya melewati jalur yang berbeda. Kedua jalur ini sama-sama memiliki tanjakan yang lumayan tinggi. Saya sempat beberapa kali berhenti mengatur napas dan mengistirahatkan kaki.

Istirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan

Istirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan

Setelah melewati pertigaan tanjakan mulai sedikit landai. Namun karena tenaga nyaris terkuras habis pada tanjakan sebelumnya, laju sepeda tidak menjadi cukup cepat. Saya selalu berusaha rileks dan santai sambil mengayuh. Setiap 15 menit sekali membasahi kerongkongan dengan seteguk dua teguk air. Keringatan bercucuran hingga baju saya basah seperti habis di guyur air. Pemandangan yang indah sepanjang perjalanan mengalihkan kelelahan yang dirasakan tubuh. Setelah melewati tanjakan yang rasanya tak habis-habis, sampailah kami ke Hutan Pinus Bissoloro.

Jalan menuju hutan Pinus Bissoloro sekitar 40 km. Namun karena tanjakan-tanjakannya tinggi dan panjang, lelahnya jadi berlipat. Kami melepas lelah sejenak dan menitipkan sepeda di Warung. Masing-masing membawa carier kecil untuk membawa perlengkapan. Carier yang saya berisi makanan,minuman dan peralatan dokumentasi. Tujuan kami adalah berlari hingga air terjun Barassang.

Sebelum menuju Air Terjun kita berpose dulu

Sebelum menuju Air Terjun kita berpose dulu

Ada jasa guide local untuk mengantarkan hingga ke air terjun,namun karena tujuan kami salah satunya untuk meng explore area ini maka kami memutuskan untuk mencari sendiri air terjun tersebut. Air Terjun Barassang ini cukup menantang untuk didatangi. kami berempat belum pernah datang kesana. Petunjuk ke sana tidak cukup jelas. Walaupun hasil orientasi medan posisi air terjun sudah di ketahui namun nyatanya kami banyak berputar-putar dalam hutan. Track yang licin dan nyaris vertikal membuat stamina lumayan terkuras.

Setelah cukup lama, kami sampai ke sebuah areal persawahan. Terdapat tebing pada sisi kanan, dan jika terus maju jalan akan menuntun kami ke sebuah tebing lagi .Melihat ke tebing sisi kanan, nampak aliran air yang meluncur,namun volumenya terlalu kecil. Untuk menghemat tenaga dan meyakinkan kembali posisi air terjun, saya kemudian menerbangkan drone untuk melakukan orientasi dari udara. Tujuan pertama adalah tebing yang berada disisi kanan. Hanya aliran kecil dan dibawahnya tidak ada sungai. Jelas ini bukan air terjun yang kami cari. Saya kemudian mengarahkan kembali drone berputar  untuk menyusuri tebing di depan kami.

Orientasi Udara

Orientasi Udara

Drone melaju perlahan dan kemudian kami bersorak, dilayar monitor bukan hanya satu air terjun yang terlihat. Tapi TIGA. Ketiga air terjun ini menyusun undakan seperti tangga. Dan air terjun ketiga, adalah yang terbesar.

Semangat kembali menyala. Kami harus mendatangi ketiga air terjun tersebut. Setelah berembuk soal rute, kami memilih untuk memutar keatas. Langsung menuju air terjun yang pertama. Setelah berjalan sekitar 10 menit kami menemukan air terjun. Tidak cukup tinggi seperti yang terlihat pada monitor sebelumnya. Kami menyeberangi sungai dan mencari jalan untuk turun. Namun semakin memasuki hutan posisi kami dengan air terjun justru semakin menjauh. Kami berputar-putar namun tidak menemukan jalan untuk turun yang cukup landai.

Kami berjalan dalam keheningan ketika telinga Kang Setia mendengar suara yang tidak biasa. Beliau adalah seorang tentara dan sudah terbiasa berada dalam hutan. Setelah mencari-cari, kami menemukan seorang penyadap nira di atas pohon. Dari bapak penyadap nira inilah yang menunjukkan jalan untuk terjun di air terjun. Jalannya tertutup semak-semak. Namun di balik semak-semak itu lah terlihat jalan setapak kecil namun cukup terjal.

Jalan terjal dan terkadang harus memanjati tebing dengan akar pohon

Jalan terjal dan terkadang harus memanjati tebing dengan akar pohon

Kami menuruni di jalan tersebut dengan hati-hati. Selain licin,jalan tersebut sangat terjal. Beberapa kali saya nyaris terpeleset. Setelah beberapa menit menuruni jalan setapak yang licin,sampai juga kami ke air terjun yang paling besar.

Hujan gerimis menyambut kami, angin terasa amat dingin. Tapi siapa yang tidak tahan godaan untuk menceburkan diri setelah melewati semua perjalanan ini. Keletihan rasanya sirna tersiram air segar pegunungan. Jam menunjukkan hampir pukul 14.00 dan kami telah melewatkan waktu makan siang. Tidak ada yang lebih tepat dilakukan selain berkemas dengan cepat dan berlari pulang. Dalam situasi seperti ini, bahkan semangkuk mie instan pun rasanya sama enak dengan semangkok coto.

Semoga kami dapat kembali untuk menikmati indahnya Bissoloro

Semoga kami dapat kembali untuk menikmati indahnya Bissoloro

Masih banyak tempat yang belum kami jelajahi. Kami berharap di lain waktu,kami dapat kembali lagi ke kawasan yang indah ini. Kami menyadari bahwa kami telah mendatangi sebuah tempat yang tak jauh dari rumah namun memiliki keindahan yang tak kalah dari tempat-tempat yang jauh. Tempat-tempat yang telah memberikan kenangan yang berbeda, karena setiap perjalanan memiliki kenangannya sendiri.

Manisku, aku akan jalan terus menbawa kenangan-kenangan
dan harapan-harapan bersama hidup yang begitu biru

(Sebuah Tanya, Soe Hok Gie,1969)

Kenangan dalam Video:

16 Comments - Add Comment

Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.