Sepenggal Bentuk Cinta

Kecintaan Ibu saya terhadap keluarga dan hobbynya memasak dan membuat kue sangatlah besar. Ketika sel-sel kanker itu mulai mencapai batang otak, beliau seperti sudah mengetahui konsekuwensinya. Cepat atau lambat beliau akan kehilangan sebagian ingatannya. Waktu-waktu akhir itu dipergunakannya dengan sebaik mungkin untuk menunjukkan cintanya.

Minggu-minggu terakhir sebelum ingatan beliau hilang, nyaris setiap hari beberapa kue tradisonal selalu ada di rumah. Buah tangan Ibu sendiri. Dengan stock bahan yang ada, Kue-kue seperti katiri sala, Sikaporo, Bolu Peca, Sangara Balanda atau kue-kue yang biasanya terhidang dalam acara pernikahan, senantiasa hadir. Hal inilah yang membuat saya setiap kali melihat kue-kue tersebut selalu teringat akan Ibu.

Saya tak hendak menyalahkan Kanker. Dia hanyalah penyebab.

Lebih dari tiga puluh tahun, Ibu mengabdikan dirinya sebagai guru. Beliau adalah pengajar dibidang IPA. Biologi dan Fisika adalah mata pelajaran yang diampunya di Sekolah Menengah Pertama. Sedari kecil beliau mengarahkan saya untuk menyenangi pelajaran IPA. Praktikum fisika dan biologi di rumah adalah hal yang pernah saya lakukan di masa kecil. Saya pun sempat menjadi juara IPA dan mengikuti lomba-lomba IPA di level kabupaten.

Terkadang bersama murid-muridnya, beliau mengajak kami berjalan-jalan di hutan. Mengambil dedaunan untuk nantinya diletakkan dibawah mikroskop. Tentu saja hal itu bagian dari caranya mengajar dengan pola yang menyenangkan.

Walaupun setelah kuliah saya lebih tertarik pada ilmu teknik dibanding ilmu IPA murni. Namun pelajaran fisika dan matematika adalah pelajaran yang dipelajari dalam mekanika teknik. Salah satu pelajaran dari bidang yang saya tekuni.

Di pekarangan rumah kami tumbuh beraneka ragam jenis bunga. Bunga-bunga tersebut diletakkan dalam pot dengan beraneka ragam bentuk dan ukuran. Sebuah kolam kecil berisi ikan mas juga menambah keasrian pekarangan tersebut. Ibu merawat bunga dan tanaman tersebut dengan baik. Satu hal yang saya ingat, beliau tidak pernah segan memberi jika ada karib kerabat ataupun tamu yang memintanya.

Pun setelah ibu tiada, saat kami pulang kampung, masih ada saja yang datang meminta bunga atau tanaman. Kami tentu saja senantiasa memberi sepanjang tanaman tersebut dirawat dengan baik.

***

Kehidupan tentu saja tak selalu menghadirkan kisah yang indah. Ada saja peristiwa yang tidak menyenangkan yang datang. Alih-alih menghindar, beliau selalu berani menghadapi masalah yang datang. Saya melihat sosok Ibu adalah sosok yang tabah dan kuat dalam melewati setiap permasalahan yang dihadapinya.

Ada sebuah hal yang sampai saat ini masih membekas dalam ingatan. Sikapnya terhadap orang-orang yang pernah menyakiti hati beliau. Baik itu secara terbuka atau orang-orang yang menghembuskan gosip maupun prasangka dibelakang beliau. Beliau senantiasa pemaaf dan bahkan tak segan-segan mengulurkan bantuan jika Ibu mengetahui ada diantara orang-orang tersebut dalam kesulitan dan membutuhkan bantuan.

Semua hal tersebut dilakukannya dalam diam. Tanpa pernah mengungkit kisah yang lalu.

***

Bagi Ibu, seberapun usia saya saat ini, saya tetaplah anak lelaki kecilnya. Anak lelaki kecil yang senang bermain kesana-kemari. Jika Ibu mengetahui saya sedang dalam perjalanan ke suatu tempat, maka saya harus siap sedia menerima pertanyaan ini:

” Apa kabar? Bagaimana keadaanmu? “

“Sudah sampai dimana? “

“Nginapnya dimana?”

“Sudah makan? tadi makan apa?”

dan beberapa hal-hal kecil lainnya.

Terkadang, pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat saya menghela nafas panjang. Namun setelah beberapa saat, saya menyadari itulah bentuk perhatian dari beliau. Biasanya saya menghadiahi beliau kuliner khas sebuah daerah ketika saya kembali dari sebuah perjalanan. Tentu saja yang halal.

***

Di suatu hari di ruang periksa, Saya menatap kosong ke arah dokter yang sedang memberikan penjelasan terkait kondisi Ibu. Beliau begitu hati-hati memilih kata.

Bagi saya tahu apapun pilihan kata yang diucapkannya, tidak lebih dari makna: Secara ilmu kedokteran usia Ibu anda mungkin tidak lama lagi.

Setelah melewati dua siklus panjang kemoterapi. Melihat rambutnya rontok kemudian tumbuh dan rontok lagi. Namun Sel kanker yang ada dalam tubuh beliau berkembang lebih cepat dan ganas dari pada terapi yang diberikan.

Pada awalnya saya denial, kenyataan tersebut tidak bisa saya terima begitu saja. Saya mendatangi ahli kanker lain untuk mendapatkan penjelasan terkait kondisi Ibu. Namun semua jawabannya sama.

Tibalah beliau pada perawatan paliatif. Perawatan paliatif adalah perawatan terakhir,dimana obat-obatan yang diberikan hanyalah untuk meringatan rasa sakit yang diderita dan tujuannya bukan lagi untuk kesembuhan.

Salah satu kesedihan yang membekas adalah menyaksikan orang yang dicintai mengalami sakit. Sel kanker yang berawal dari paru, masuk ke tulang, daging dan mencapai otak merontokkan satu persatu fungsi indera yang dimilikinya.

Empat bulan kemudian, Ibu pun pergi menghadap penciptanya. Didampingi oleh keluarga yang sangat dicintainya.

Suatu ketika saya terjatuh, ketika melihat tangan saya bentuknya tidak pada posisinya, saya masih memiliki kekuatan untuk berjalan dan berkomunikasi. Rasa sakit yang sesungguhnya datang sehari setelahnya. Ketika tangan saya mulai lebam dan berwarna hitam. Rasanya tidak bisa tidur tanpa meminum pil penahan rasa sakit.

Kesedihan itu datang bukan pada hari kematian Ibu. Sebagai anak, hari itu hari yang sibuk. Mengabari keluarga besar, mempersiapkan kebutuhan pemakaman dan hal-hal lainnya. Saat itu terjadi, semuanya masih terasa seperti mimpi. Kesedihan yang sesungguhnya datang setelah itu.

Tujuh bulan sudah Ibu meninggalkan kami. Ada yang bilang tidak terasa ya. Namun bagi saya, rasanya baru kemarin. Saya masih ingat dengan baik saat-saat terakhir itu. Suasananya. Detakan jantungnya yang perlahan-lahan mulai hilang. Malam-malam bersama beliau di ICU. Rasanya seperti baru saja terjadi.

Banyak pelajaran berharga dan nilai-nilai yang diajarkan Ibu.

Ibu adalah sosok yang mengajarkan bagaimana tetap berbuat baik kepada orang-orang yang di masa lalu pernah menyakiti hati. Ibu adalah sosok yang mengajarkan cinta kasih yang tak terbatas. Ibu adalah sosok yang mengajarkan untuk tetap tegar menghadapi masalah apapun yang datang. Ibu adalah sosok yang selalu mendukung pilihan-pilihan hidup yang telah saya ambil dengan segala konsekwensinya.

Rasanya belum cukup waktu dan tidak pernah ada kata cukup untuk berbakti kepadanya. Semoga beliau mendapatkan tempat yang layak dan indah di sisi-Nya. Maafkan kami yang sampai saat ini belum bisa mewujudkan semua harapan-harapanmu.

Jasa dan budi baikmu abadi.

10 Comments - Add Comment

Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.