Menapaki Jalan Langit

  • Asdar Azis

    Adda merupakan nama panggilan di rumah dan orang-orang terdekat.Lahir dan dibesarkan di Sulawesi Selatan,Kuliah di Kota Makassar dan Bandung,Bekerja berpindah-pindah,saat ini tinggal di Kota Palembang,senang begadang dan minum kopi susu,senang tertawa,dan memiliki cita-cita yang tinggi

Mereka yang terlebih dulu melangkah ke pintu itu (1)

December 27th, 2009

Kehidupan ini adalah sebuah nikmat yang wajib untuk di syukuri.Setiap masa dalam hidup pada saatnya akan berakhir dan ini adalah sebuah keniscayaan.Dalam minggu terakhir ini,dua orang yang secara emosional dekat dengan sa lebih dahulu menapaki akhir jalan hidup di dunia ini.Adalah sosok kolega sa :Muhammad Majid dan keponakan sa Andi Asmara Dina.

Andi Asmara Dina adalah anak perempuan dari sepupu sa.Seorang wanita yang cantik umurnya masih 25 tahun.Masih muda.Namun kini dia pergi menyusul anak perempuannya yang terlebih dulu meninggal setahun yang lalu.Sa mencoba mengingat masa kecil yang sempat kami lalui bersama.Tidak banyak memang karena waktu itu kami tinggal di daerah yang berbeda.sa di Sidrap dan dia tinggal di Soppeng.Namun walaupun kebersamaan kami kami sebatas hanya dalam acara keluarga saja namun sa mengingat Andi Ninna begitu nama panggilannya adalah seorang anak yang periang.

Bermula dari rencana dari nenek dari Andi Ninna ( nenek Andi Ninna dan Nyokap adalah saudara sebapak namun lain ibu) untuk menjodohkan kami berdua akhirnya komunikasi kami berdua menjadi kikuk.Sa pribadi yang kala itu baru lulus SMA belum sama sekali berfikir ke arah sana.sa yakin dia pun berfikir seperti itu.Keadaan bertambah rumit karena tidak lama kemudian Nenek Andi Ninna meninggal dunia dan perjodohan ini dianggap menjadi wasiat.

Tahun  demi tahun berlalu akhirnya rencana perjodohan itu hilang dengan sendirinya.apalagi dengan sikap dengan Nyokap yang tidak terlalu mempermasalahkan hal ini dan menyerahkan keputusan kepada sa pribadi.

Sa kemudian kuliah di Bandung dan bekerja di Jakarta dan jarang sekali pulang.Ketika sa pindah ke Palembang,akhirnya Andi Ninna menikah dengan pilihan hatinya dan setahun kemudian lahirlah anak perempuan mereka namun sayang umurnya tidak panjang.Semenjak kepergian putrinya lambat laun kondisi kesehatannya menurun .Terakhir sa bertemu dengan dia pada suasana lebaran tahun 2009 tubuhnya nampak sedikit kurus namun tetap ceria sebagaimana sa mengenalnya di masa kecil.

Adik sa bercerita bahwa di hari-hari terakhir hidupnya dia masih sempat bertemu dan mengobrol di sebuah Mall di Makassar.di sore yang cerah ketika dia sedang duduk di teras rumahnya akhirnya ajal datang menjemput nyawa.Selamat jalan Ninna semoga engkau mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya.Ditengah malam yang sunyi ku panjatkan doa dan ku kirimkan Fatihah semoga menjadi penerang jalanmu di sana.

Renungan di Hari Milad

December 21st, 2009

Untuk segala dosa dan khilaf di masa lalu,ku mohonkan maaf dan ampunan.semoga di masa yang akan datang diri ini menjadi yang jauh lebih baik dan sebelumnya.

Untuk cita-cita besar di masa yang akan datang,semoga diri ini di beri kekuatan dan kemudahan untuk menggapainya dan semoga diri ini pantas untuk semua itu.

Untuk semua tindakan konyol dan ngaco di masa lalu,semoga bisa menjadi pelajaran untuk bersikap di masa akan datang.

Untuk kebahagian yang begitu besar yang tercurah,Ku ucapkan rasa syukur yang sebesar dan sedalam-dalamnya.

Hidup memang singkat dan terlalu singkat untuk di isi dengan kesia-siaan.

Semoga di tahun mendatang akan lebih baik lagi.

Umur memang terus berkurang dari hari ke hari.Semoga di sisa waktu yang ada, kehidupan akan lebih baik dan bermakna bahkan dalam kehidupan setelah kematian sekali pun.

_____________________________________________

Mengenal sisi lain seorang anggota mafia internasional

December 15th, 2009

Hari  ini sa mendapatkan kesempatan khusus untuk berbincang dengan seorang anggota mafia sindikat international.Namanya Ali sebut saja begitu.Ali menguasai banyak gang mafia di beberapa negara.New York, Cuba, sampai ke Moskow adalah daerah kekuasaannya malah dalam waktu dekat Ali akan melakukan expansi ke Bangkok.

Kalau kemudian anda membayangkan Ali adalah seorang yang setiap saat di kelilingi oleh pengawal bersenjata maka anda salah besar.Kalau anda membayangkan Ali setiap saat kemana-mana dengan mobil mewah berwarna hitam dengan kaca gelap plus anti peluru anda juga salah.

Di suatu sore yang agak mendung sa berkesempatan bertemu dengan Ali.Penampilannya biasa saja,baju bola,celana jeans dan sepatu kets.

Adda :  Menurut Kabar Yang beredar anda ini adalah seorang Mafia ?

Ali : Yah.. memang seperti itulah adanya….

Adda : Sudah berapa lama anda menjadi menjadi seorang Mafia ?

Ali : Kurang lebih setahun lah… di sini saya banyak menemukan banyak kesenangan….. hehehehehe ( Ali tertawa dengan tawa bengis )

Adda : Tapi kok saya ngak percaya ya kalo anda ini adalah anggota mafia secara dari tampang dan penampilan tidak meyakinkan.

Ali : wah anda ini meremehkan saya… baiklah saya akan memperlihatkan buktinya…( Ali menyalakan laptopnya dan memperlihatkan game online mafia wars…)

Adda : Bwahhhh Anda ini menipu.. ini kan bukan mafia dalam arti yang sebenarnya…..

Ali : Publik itu lah yang terlalu berlebihan menilai saya,Saya hanyalah pemuda lugu,penikmat game online,rajin sholat dan hampir tidak pernah ikut bisnis MLM.

Adda : wah anda lebay juga yah…..

Ali : hehehe lebay adalah bagian hidup saya.tau ngak seeh aku maen game mafia wars ini tiap hari loh…pagi sebelum kerja.. trus di kantor aku juga maen kalo ngak terlalu sibuk… malem-malem aku maen juga loh sambil telpon-telponan sama yayang akyu…..

Adda : Wah… wah… anda ini benar-benar adicted ya….. Oke lah kalo begitu kita akhiri saja wawncara ini ya….

Ali : Oke…. jangan lupa ya maen wars… di kantor dah banyak yang maen loh… banyak cewe-cewe juga yang ikutan maen game ini.. levelnya dah tinggi-tinggi…ntar saya add jadi anggota mafia saya ya….

Dan begitulah wawancara ini berakhir begitu saja…..

Photobucket

Ali sedang memberikan penjelasan

Photobucket

Memanfaatkan waktu luang untuk bermain Mafia Wars

Photobucket

Suasana wawancara dengan Don Ali