Jejak roda di lereng Bawakaraeng

Keindahan lereng Bawakaraeng mengalihkan kelelahan yang melanda. Track jalan menanjak ini berakhir di Kampung Lengkese. Sebuah tempat yang menjadi saksi ketegaran dan perjuangan penduduk pasca bencana longsor  di tahun 2004. Disana alam dan manusia menyatu dalam harmoni. Alam yang indah di lereng Bawakaraeng tempat kami menjejakkan roda melambaikan kerinduan untuk kembali kesana. Tempat dimana lukisan indah ciptaan Tuhan di bentangkan di permukaan bumi.

Menggunakan sepeda jenis roadbike di medan berbatu dan tidak rata memang tidak lazim. Sepeda jenis ini memang diperuntukkan untuk medan jalan raya. Selain itu model grip ban dan ketiadaan suspensi membuat kenyamanan saat melewati track trail berkurang. Namun bukan berarti jenis sepeda tidak bisa di gunakan untuk melalui jalan tanah dan berbatu. ini pengalaman saya dan Kang Dani merasakan asiknya bersepeda roadbike di indahnya alam Bawakaraeng

Rencana awal kami akan bersepeda dari Makassar menuju ke Malino. Sebuah kota wisata berjarak sekitar 73 km. Namun karena beberapa teman batal ikut, maka kami memutuskan untuk bersepeda di seputaran Malino saja. Pagi jam 6.50, saya bersama Kang Dani berangkat dari Makassar. Sepeda kami bongkar dan diletakkan di bagasi. Perjalanan ke Malino di tempuh dalam waktu 3 jam. Kondisi jalan cukup ramai bersaing dengan truck pengangkut material. Setelah membeli bekal untuk di jalan, kami berbelok kearah air terjun Takapala. Hari masih pagi dan belum banyak pengunjung menuju air terjun membuat waktu tempuh perjalanan tidak terlalu lama.

Sepeda dirangkai dan check sebelum perjalanan di mulai

Sepeda dirangkai dan check sebelum perjalanan di mulai

Setelah memarkirkan mobil diparkir sekitar 1 km setelah air terjun, kami pun mulai melakukan persiapan. Sepeda-sepeda dirangkai kembali, peralatan dan bekal yang akan kami gunakan dalam perjalanan pun dicek. Setelah semuanya siap, perjalanan pun kami mulai. Track dimulai dengan jalan panjang menurun. Akhir- akhir ini sebenarnya saya kurang fit, malam sebelum berangkat hanya sempat tertidur selama 2 jam.Makassar selama seminggu di ]guyur hujan deras. Cuaca cukup lembab dan saya pun kena flu. Walhasil kilometer-kilometer pertama cukup berat bagi saya. Mulai dari nafas yang pendek sampai pinggang yang sakit. Untunglah Kang Dani mengerti dengan kondisi ini sehingga sabar berhenti menunggu sejenak bila jarak antara kami agak jauh.

Kang Dani di Jembatan Merah

Kang Dani di Jembatan Merah

Untunglah setelah melewati Jembatan Merah sakit yang melanda pinggang berangsur-angsur reda. Kondisi jalan yang menanjak tajam tanpa jeda kadang-kadang membuat kami terpaksa menuntun sepeda. Napas yang tersengal-sengal dan otot yang mulai sakit terlupakan dengan segera melihat hamparan keindahan yang hadir depan mata.

Keramahan penduduk lokal dan pemandangan alam yang indah memberikan kesan yang dalam.Karena baru pertama melewati jalur ini, kami banyak singgah untuk bertanya arah. Penduduk lokal dengan sangat ramah menunjukkan kami jalan. Bukan hanya itu, tawaran mampir untuk singgah dan beristirahat di rumah selalu diberikan. Sepanjang jalan pun banyak yang memberikan kami semangat. “ Singgah di rumah, Mister ….” Ucap seorang ibu. Saya pun tertawa. Baru kali ini disangka orang asing.

Jalan panjang menanjak pun berakhir di kampung Lengkese. Setelah itu perjalanan dilanjutkan menempuh kebun kopi dan hutan. Bukan hal mudah karena di beberapa spot, sepeda tidak dapat di kendarai sehingga terpaksa harus kami panggul. Jalan menuntun kami ke sebuah air terjun. Tidak besar namun indah.

Air Terjun

Air Terjun

Rumah itu terletak di ujung jalan beton. Rumah kayu, typical rumah tradisonal. Di jalan,kami bertemu dengan seorang bapak yang sedang mengangkut bambu. Beliau dengan ramah menawari untuk singgah beristirahat di rumahnya. Pada awalnya kami sungkan karena takut merepotkan. Namun karena ingin beristirahat maka akhirnya kami terima juga tawaran dari Tata (Red: Para pendaki biasa memanggil penduduk local dengan sebutan Tata).

Di teras rumah sambil menikmati kopi dan berbagi cerita. Tahun 2004, Kala itu hari Jumat. Sebagian penduduk pria masih berada di Masjid. Suara gemuruh tiba-tiba terdengar dan dalam hitungan detik sebagian wilayah kampong tertimbun ratusan ribu kubik material dan menutupi lembah. Hampir 6000an orang mengungsi, 33 orang tewas, 800 ekor ternak hilang, 12 unit rumah dan satu sekolah tertimbun, lebih 200 hektar lahan pertanian dan perkebunan tertimbun. Peristiwa ini begitu membekas bagi penduduk Lengkese. Menurut Tata, hari ini penduduk kampung Lengkese sekitar 70 KK. Sebagian besar penduduk telah di relokasi ke tempat baru. Hanya di daerah – daerah yang berada di wilayah relative aman masih dihuni oleh penduduk.

view Lembah Loe

view Lembah Loe

Perjalanan kami lanjutkan menujuh lembah loe. Rencananya kami akan menyeberangi sungai Jeneberang namun menurut penduduk lokal kondisinya sedang tidak aman untuk di seberangi karena arusnya sedang deras. Kontrur lembah ini berupa tanjakan dan beberapa spot cukup landai sehingga masih memungkinkan untuk di kendarai dengan sepeda. Jam menunjukkan nyaris pukul 14.00 ketika akhirnya kami memutuskan untuk balik arah. Target sebelum jam 18.00 kami harus sudah sampai di Kota Makassar. Setelah memanggul sepeda kurang lebih satu jam akhirnya kami sampai di jalan beton.

Panggul Sepeda

Panggul Sepeda

Perjalanan pulang di dominasi oleh turunan. Sepeda bisa dipacu sampai kecepatan 60 km/jam.Perlu ekstra hati-hati untuk perjalanan turunan. Riding position dan berat sepeda yang ringan memungkinkan akselerasi kecepatan dengan cepat. Beberapa kali ban belakang terangkat ketika  melewati turunan berkelok panjang. Hanya butuh waktu sekitar 50 menit untuk sampai kembali di tempat kami memarkin kendaraan.

Berpose di Jembatan Merah

Berpose di Jembatan Merah

Lembah Loe dan sajian pemandangan yang indah menuju Lengkese adalah oase. Disana alam dan manusia menyatu dalam harmoni. Alam yang indah di lereng bawakararaeng tempat kami menjejakkkan roda melambaikan kerinduan untuk kembali kesana. Tempat dimana lukisan indah ciptaan Tuhan di bentangkan di permukaan bumi.

 

2 Comments - Add Comment

Reply