Oase itu bernama Karampuang

“Saat ini sudah susah melihat pantai berpasir di kota Mamuju, nyaris semua pantai sudah di reklamasi. Tak lama lagi ada jalan arteri yang dibangun diatas laut. Kalau mau melihat pantai berpasir coba saja di Karampuang. Nanti dari tempat nginap juga kelihatan” tutur Pak Kadir, Driver yang mengantar kami dari bandara

Pulau Karampuang dari Udara

Selamat datang di Mamuju – ibukota Propinsi Sulawesi Barat. Propinsi ini merupakan pemekaran dari Sulawesi Selatan di tahun 2004. Luas wilayahnya sekitar 16,796.19 km². Perjalanan dari bandara Tampapadang menuju ke pusat kota membutuhkan waktu sekitar 30 menit menyusuri bukit-bukit berkelok sejauh 30 km. Bila memasuki kota Mamuju, menengoklah ke arah bukit maka sebuah tulisan besar bertuliskan “MAMUJU CITY” di atas bukit tak jauh dari rumah dinas Bupati Mamuju mengingatkan kita akan hollywwod sign.

Pulau Karampuang

“Sebuah keindahan yang bisa dinikmati oleh golongan orang bangun pagi adalah menyaksikan ke indahan terbitnya matahari”

demi keindahan itu maka pagi-pagi Pak Kadir sudah mengantarkan kami ke Dermaga Pelabuhan Mamuju. Disana sudah standby sebuah perahu motor yang akan membawa kami menuju Pulau Karampuang.

Berperahu di Pulau Karampuang

 

Butuh waktu sekitar 30 menit mencapai salah satu spot pendaratan di pulau karampuang di kampung Ujung Bulo. Matahari pagi mulai muncul dari balik pegunungan,Jernihnya air laut sampai-sampai kita bisa melihat dasarnya tanpa perlu meyelam dan hilir mudik aktifitas penduduk menggunakan perahu membuat 30 menit tidak terasa lama.

Menuju Karampuang

Ada sekitar 7 titik yang biasa di pakai untuk memasuki pulau karampuang. Titik destinasi yang paling sering di pergunakan adalah dermaga yang berada di kampung bulo. Dermaga ini menjorok ke laut sekitar 50 m ke laut. Ketinggian air yang tidak cukup dalam membuat kapal-kapal berbobot sedang tidak dapat merapat di bibir pantai. Dari 7 titik pendaratan yang ada di pulau Karampuang hanya ada 4 yang bentuknya dermaga. Pulau Karampuang sendiri di kelilingi oleh karang-karang setinggi sekitar 3- 4 m.

Dalam pulau karampuang terdapat 13 Dusun, 7 Lingkungan dan sebuah desa. Pusat pemerintahannya sendiri ada di Desa Karampuang I. Kehidupan disini sangat damai dan tenang. Listrik hanya menyala dari jam 6 sore sampai dengan jam 11 malam. Jam 5 subuh listrik akan menyala sejenak untuk kumandang Azan subuh setelah itu akan mati kembali. Listrik juga akan menyala di luar jam tersebut bila ada event-event tertentu seperti lebaran. Butuh 14 buah genset menhidupkan listrik di Pulau Karampuang, Genset- genset tersebar di seluruh areal pulau.

Ternyata pantai yang di maksud oleh Pak Kadir adalah sebuah bentangan yang luasnya sekitar seperempat lapangan bola.sebuah area berpasir yang letaknya disekitar dermaga. Di pantai ini kita bisa beristirahat sejenak sebelum berenang,snorkling ataupun sekedar mendayung perahu sambil memancing.Setelah lelah menikmati semua aktifitas tersebut, tak ada yang lebih nikmat dari menikmati lezatnya ikan dan cumi yang dibakar di tepi pantai.

Sayang kami tidak punya waktu yang lebih banyak untuk menikmati keindahan ini.Masih ada pekerjaan yang menunggu di kota Mamuju. Kami pulang dengan harapan suatu saat kami akan kembali datang untuk menikmati keindahan dan asrinya Pulau Karampuang.

 

 

 

Reply